Rabu, 16 Juli 2008

ESP Lebih Canggih dari Komputer Apollo 11


Sebuah sedan Mercedes Benz dipacu dengan kecepatan 80 kilometer per jam. Setelah melewati cone plastik yang menjadi garis pembatas, tanpa menginjak pedal rem sama sekali, pengendara mobil yang melaju dengan kecepatan 80 kilometer per jam itu langsung melakukan slalom di antara empat cone plastik yang sudah disiapkan sebelumnya.
Slalom dilakukan dengan mulus. Pengendara baru menginjak pedal rem untuk memberhentikan mobil setelah posisi mobil tegak lurus ke arah depan, di tempat yang telah ditentukan.

Jangan kaget dulu. Semua itu adalah berkat hasil kerja mikrokomputer mobil yang diberi nama electronic stability program (ESP), yang pagi itu tengah diperagakan cara kerjanya.
Pada saat sedan Mercedes Benz memasuki lintasan slalom dengan membelok ke kiri (cone plastik pertama berada di sisi kiri mobil), untuk memastikan mobil melaju mulus di lintasan yang diinginkan pengendara, ESP menerapkan rem (hanya) pada roda depan bagian luar (dalam hal ini roda kanan depan) sehingga mobil tertarik ke kanan dan pengendara dapat dengan mulus membelok ke kanan melewati cone plastik kedua (di sisi kanan mobil). Pada saat pengendara membelokkan mobil ke kiri lagi melewati cone plastik ketiga (di sisi kiri mobil), ESP menerapkan rem (hanya) pada roda belakang terluar (dalam hal ini roda kiri belakang) sehingga mobil tertarik ke kiri dan pengendara dapat dengan mulus membelok ke kiri. Demikian seterusnya.




Dalam peragaan cara kerja ESP itu, pengendara memang diinstruksikan untuk tidak melakukan pengereman atau tidak menginjak pedal rem sama sekali sehingga ESP dapat bekerja secara penuh, yakni melakukan pengereman hanya pada roda yang diperlukan. Apabila pengendara tidak mematuhi instruksi tersebut, dan menginjak pedal rem, rem diterapkan pada keempat roda dan sebagai akibat, mobil akan memutar tidak terkendali. Apabila keadaan seperti itu terjadi, ESP hanya dapat memutus aliran torsi ke roda putaran mobil untuk tidak membuat keadaan semakin parah.

ESP merupakan perlengkapan standar mobil-mobil papan atas atau mobil-mobil supermewah. Nama yang diberikan bermacam-macam, tergantung merek mobilnya. Mercedes Benz dan Audi menyebutnya ESP, BMW menyebutnya dynamic stability control (DSC), dan Lexus menyebutnya vehicle stability control (VSC).

ESP adalah mikrokomputer yang berfungsi membantu pengendara dalam mengendalikan mobil dengan menstabilkan pengendalian (handling) kendaraan dalam situasi kritis. Bisa dikatakan, jantung dari ESP adalah electronic control unit (ECU).

Dalam melakukan fungsinya, ESP mengandalkan informasi yang diterima berbagai macam sensor yang terpasang pada mobil. Semua informasi yang masuk itu diproses dengan sangat cepat (1/25 detik) dan jika diperlukan mengambil tindakan atau beberapa tindakan yang tepat untuk mengatasinya.

Misalnya, ESP membandingkan arah yang diinginkan pengendara melalui sudut putaran setir dan masukan pengereman (braking input) dengan reaksi mobil yang diperoleh lewat akselerasi lateral (menyamping), penyimpangan dari arah yang dituju (yaw), dan kecepatan tiap-tiap roda. Kemudian, ESP menerapkan rem pada roda depan atau roda belakang secara sendiri-sendiri, dan jika diperlukan menurunkan torsi mesin ke roda, seperti yang diperlukan untuk mengoreksi oversteer atau understeer.

Oversteer adalah situasi di mana pada saat mobil menikung, roda belakang cenderung slip keluar dari lintasan normal atau lintasan yang seharusnya dilalui. Jika mobil mengalami oversteer, ESP akan menerapkan rem hanya pada roda depan bagian luar sehingga mobil tertarik kembali kelintasan yang seharusnya dilalui.

Sementara understeer adalah situasi di mana saat menikung, ban depan cenderung slip keluar dari lintasan normal. Jika mobil mengalami understeer, ESP akan menerapkan rem pada roda belakang bagian dalam sehingga mobil tertarik kembali ke lintasan yang seharusnya dilalui.

ESP juga mengintegrasikan all speed traction control yang merasakan (sense) apabila roda penggerak mengalami slip (skid) sewaktu berakselerasi dan menerapkan rem secara sendiri-sendiri pada roda atau roda-roda yang mengalami slip, dan jika diperlukan, menurunkan torsi mesin yang berlebihan sampai kendali atas mobil sudah diperoleh kembali.

Rata-rata mikrokomputer pada sebuah mobil melakukan lebih dari 20 pemrosesan data secara terpisah, yang kemampuannya masing-masing jauh di atas komputer yang menuntun Apollo 11 mendaratkan manusia ke Bulan pada tahun 1969. Itu karena rute dari Bumi ke Bulan yang dilalui Apollo 11 sudah jelas dan selama melakukan perjalanan ke dan dari Bulan, Apollo 11 berjalan sendirian. Dengan demikian, komputer yang dibawa Apollo 11 tidak perlu memperhitungkan kehadiran roket atau roket-roket lain.

Dalam melakukan pekerjaannya, ESP dipadukan dengan traction control atau anti-skid regulation (ASR), anti-lock brake system (ABS), electronic brake-force distribution (EBD), dan brake assist (BA).

Dalam kaitan itulah, pengendara harus memastikan agar keempat roda tetap menapak di permukaan jalan mengingat jika keempat roda sampai lepas dari permukaan jalan, ESP tidak menjalankan tugasnya atau tidak membantu pengendara lagi.

Mercedes yang pertama
Pada tahun 1959, Mercedes Benz mematenkan sebuah perangkat yang dapat mencegah roda mengalami spin dengan mengintervensi mesin, persneling, atau rem. Tahun 1987, Mercedes Benz menerapkan patennya dengan memperkenalkan sistem pengendali traksi (traction control system) yang bekerja dengan memadukan pengereman dan akselerasi.

Pada saat yang bersamaan, BMW mengembangkan sistem pengendali traksi. Pada tahun 1987-1992, Mercedes Benz dan Robert Bosch GmbH bersama-sama mengembangkan sebuah sistem yang diberi nama Elektronisches Stabilitätsprogramm (atau dalam bahasa Inggris, electronic stability program/ESP). Sementara itu, BMW bekerja sama dengan Robert Bosch GmbH dan Continental Automotive Systems mengembangkan sebuah sistem yang serupa dan diterapkan pada semua BMW keluaran 1992.

Tahun 1995, Mercedes Benz dan Volvo mulai menawarkan electronic stability control (ESC) pada beberapa model mobil buatannya. Sementara itu, Ford, General Motors, Toyota, Volkswagen, dan lain-lain menginvestigasi dan mengembangkan sistem ESC.(JL)

Artikel ini dimuat di harian Kompas, 17 Juli 2008, halaman 41

Label:

Jumat, 23 November 2007

Mobil Pintar, “Drive by Wire”


JALAN raya (highway) adalah sarana vital yang menghubungkan satu
tempat dengan tempat yang lain. Bahkan, jalan raya disebut sebagai
urat nadi suatu negara. Namun, kini, di banyak negara, jalan raya
dirasakan sudah kelebihan beban. Banyaknya kendaraan bermotor yang
melintas, membuat jalan raya sangat padat. Sebab, pertambahan badan
jalan berkembang sesuai dengan deret hitung, sedangkan pertambahan
jumlah kendaraan bermotor berkembang sesuai deret ukur. Akibatnya,
berjam-jam waktu dan berliter-liter bahan bakar dihabiskan di jalan
raya.

Biaya yang diperlukan untuk membangun badan jalan sangat besar,
terutama di daerah perkotaan. Itu sebabnya, menambah badan jalan
untuk mengatasi kepadatan lalu lintas merupakan pilihan yang
terakhir. Jalan keluar yang dipilih adalah mengelola alur kendaraan
yang melintas di jalan raya, sehingga kendaraan tidak menumpuk di
salah satu ruas jalan. Dengan demikian, alur kendaraan yang melintas
di tiap-tiap ruas jalan dapat dijaga kepadatannya.

Mengemudikan mobil di jalan raya, kini, bukan lagi merupakan
pekerjaan yang mudah. Semakin dekatnya jarak antarkendaraan yang
melintas di jalan raya, membuat keteledoran, seberapa pun kecilnya,
tidak dapat ditolerir. Kecelakaan di jalan raya seakan-akan menjadi
hal yang lumrah.

Sejalan dengan semakin padatnya jalan raya, semakin padat pula
lahan parkir. Menemukan tempat untuk memarkir kendaraan bukanlah
pekerjaan yang sederhana. Kalaupun ditemukan, tidak jarang tempatnya
pas-pasan, sehingga untuk memarkir mobil diperlukan keterampilan
ekstra.

Semua kesulitan itu membuat pabrik-pabrik mobil terkemuka dunia
memikirkan cara untuk mengatasinya. Mereka berlomba-lomba memasukkan
teknologi tinggi ke dalam produk-produk mutakhir yang diluncurkan,
dengan harapan bisa membantu para pengemudi dalam menghadapi berbagai
persoalan atau hambatan yang mungkin muncul saat mengemudi.

***
MAJALAH Asiaweek edisi 23 Februari 2001 mengemukakan, pabrik
mobil Jepang, Honda, tengah membuat mobil yang super sensitif
terhadap kendaraan di sekelilingnya. Tahun lalu, pabrik mobil Jepang
mendapatkan izin Pemerintah Jepang untuk mengetes Honda Intelligent
Driver Support (HIDS) di jalan raya. Melalui jaringan sensor laser,
kamera video digital dan unit kontrol elektronik yang ditempatkan di
bodi mobil, sistem komputer di mobil melacak keberadaan kendaraan
lain di depannya, menyesuaikan kecepatan dalam batas-batas yang aman,
dan menjaga kendaraan agar melintas di jalur yang benar. Dan,
sebagian besar dari informasi itu ditampilkan lewat layar kristal
cair (liquid crystal display/LCD) yang terdapat di dashboard.

Beberapa teknologi yang masih dijajaki adalah lampu utama
(headlight) yang dapat melihat semua sudut, dengan bantuan sensor
yang diletakkan di sumbu roda depan dan belakang; alat untuk melihat
dalam gelap (night vision); dan komunikasi tanpa kabel (wireless)
dengan pengendara sepeda motor melalui alat yang dipasang pada helm.

Penelitian lain yang juga tengah dilakukan adalah telematik,
yakni membawa Internet dan telekomunikasi tanpa kabel ke dalam mobil.
Akan tiba waktunya, di mana seseorang dapat menggunakan telepon
genggam untuk berkomunikasi dengan mobilnya, seperti membuka kunci
pintu, menghidupkan mesin dan menyalakan air conditioning (AC), saat
ia masih berada beberapa blok jauhnya dari mobil tersebut.

Dan, saat ia sudah duduk di dalam mobilnya, ia bisa mengecek
keadaan lalu lintas dan cuaca di sepanjang rute yang akan dilaluinya.
Ia juga dapat mengirimkan e-mail kepada sekretarisnya dan mengecek
nilai sahamnya. Bahkan, melalui Internet yang diaktifkan dari
komputer di mobil, ia dapat menghidupkan kamera monitor di rumahnya,
untuk memastikan anjingnya tidak sedang menggigiti bantalan kursi
mebelnya.

Sesungguhnya, penggunaan komputer di dalam mobil bukanlah sesuatu
yang baru. Selama lebih dari 20 tahun, komputer mengatur proses
pengapian (ignition timing) dan beberapa fungsi lain di dalam mobil,
seperti pemasokan bahan bakar (fuel injection). Akhir-akhir ini,
perangkat Automatic Vehicle Location (AVL) yang menggunakan teknologi
Global Positioning System (GPS) mulai melengkapi sistem komputer
mobil. Dengan demikian, posisi mobil bisa diketahui secara tepat oleh
satelit-satelit GPS.

Pabrik mobil Mercedes Benz melengkapi produk-produknya dengan
sistem navigasi TeleAid yang bekerja dengan bantuan perangkat AVL.
Dengan demikian, apabila terjadi kecelakaan atau mobil mengalami
kerusakan, secara otomatis tombol SOS akan menyala, dan komputer
langsung mengirimkan data tentang kerusakan yang dialami mobil,
berikut juga lokasinya. Pada mobil-mobil papan atas seperti Lexus
(Toyota) dan Acura (Honda) dipasang sistem OnStar yang dikembangkan
oleh General Motor (GM). Dalam waktu dekat, sistem ini akan
dilengkapi laporan (suara manusia) tentang harga saham, tentang
cuaca, situasi lalu lintas, e-mail, dan juga iklan.

Banyak aplikasi canggih lain yang dipasang di mobil untuk alasan
keamanan. Lexus dan Mercedes akan memperkenalkan teknologi radar-
laser yang membantu pengemudi dalam menjaga jarak yang aman dari
kendaraan di depannya. Sementara Nissan mengembangkan sensor berupa
kamera digital yang memberitahukan pengemudi bahwa mobil yang mereka
kemudikan berada di luar lajur.

Toyota dan Nissan merencanakan untuk membuat sensor yang secara
otomatis akan mengerem mobil yang tengah melaju dengan cepat, apabila
sesuatu secara mendadak muncul di hadapan mobil itu. Sesuatu itu bisa
berupa orang menyeberang jalan, sepeda motor muncul dari gang, atau
tiba-tiba memotong jalan, ataupun mobil di hadapan berhenti mendadak.

Sensor otomatis itu dianggap penting, mengingat lambannya reaksi
manusia dalam mengantisipasi sesuatu yang tiba-tiba muncul di
hadapannya. Sebab, sesuai dengan kodratnya, manusia adalah pejalan
kaki. Karena itu, reaksi dan kecepatan indera manusia dalam
mengantisipasi gerak disesuaikan dengan kecepatannya sebagai pejalan
kaki, yakni lima kilometer per jam.

Nissan juga tengah mengembangkan sensor antimengantuk. Sensor
berupa kamera digital yang dipasang di dashboard mendeteksi wajah
pengemudi dengan mengamati gerak-gerik mata pengemudi. Jika pengemudi
mengantuk, yang ditandai dengan melemahnya kedipan mata, atau
pengemudi tertidur, yang ditandai dengan mata terpejam dan kepala
tertunduk, maka komputer segera membunyikan alarm untuk membangunkan
pengemudi. Komputer juga akan membunyikan alarm jika pengemudi
memejamkan mata terlalu lama, atau memalingkan muka untuk waktu yang
lama.
***

TATEUCHI Tadashi, pimpinan Klub Kendaraan Listrik Jepang
membayangkan bahwa nantinya orang bisa tertidur di bangku pengemudi
tanpa mengakibatkan kecelakaan, karena mobil berjalan di bawah
kendali komputer yang dipasang pada mobil itu. Atau istilah
populernya, drive by wire.

Dengan demikian, adegan mobil yang membawa Arnold Schwarzenegger
dan rekannya ke bandar udara tanpa harus dikendalikan dalam film The
Sixth Day
itu akan menjadi kenyataan dalam waktu yang tidak terlalu
lama. Dalam film itu, mobil tersebut mengemudikan dirinya sendiri
sampai mendekati bandar udara. Menjelang sampai di bandar udara,
komputer yang mengendalikan mobil itu mengingatkan pengemudi (dengan
suara manusia) untuk mengambil alih kemudi, karena mobil sudah
mendekati tujuan.

Namun, persoalannya apakah orang mau dirinya dikendalikan oleh
komputer? Kalau komputer hanya berfungsi membantu pengemudi, seperti
auto-pilot di pesawat terbang, maka tidak akan ada yang keberatan.
Namun, kalau komputer sepenuhnya mengendalikan mobil, maka akan
banyak yang menentangnya. Salah satunya adalah Stephanie Faul, juru
bicara Yayasan Mobil Amerika Serikat bagi Keamanan Lalu Lintas di
Washington DC. "Jika sistem itu membuat orang mengalihkan
pandangannya dari jalan, maka itu akan menimbulkan persoalan,"
ujarnya. Ia menambahkan, "Setiap teknologi baru mempunyai sisi
Frankenstein, di mana monster itu akan melakukan sesuatu yang tidak
pernah kamu perkirakan, atau pikirkan."

Meskipun akhir-akhir ini gagasan kendaraan yang mengendarai
dirinya sendiri banyak diperbincangkan, tetapi sesungguhnya gagasan
untuk membuat kendaraan seperti itu sudah dipikirkan sejak tahun 1930-
an. Sebuah model kendaraan seperti itu dipamerkan oleh General Motor
di Pameran Mobil Dunia di New York, Amerika Serikat, tahun 1939.

Akhir tahun 1950-an dan awal tahun 1960-an, para peneliti di General
Motor mencoba menyempurnakan mobil-mobil yang tidak memerlukan
pengemudi. Mereka mempertontonkan bagaimana truk-truk yang
dikendalikan robot dapat bekerja di area pertambangan. Kemudian tahun
1960-an dan awal tahun 1970-an, Robert E Fenton dari Ohio State
University mendemonstrasikan bahwa mobil yang dikendalikan komputer
bisa beroperasi dengan baik di arena percobaan.

Walaupun percobaan itu dianggap sebagai kegiatan penelitian yang
berharga, tetapi hasil percobaan itu dianggap sebagai terlalu dini
(masih mentah) untuk benar-benar difungsikan. (jl)

Artikel ini dimuat di harian
Kompas, 24 April 2001, halaman 31

Label:

Kamis, 22 November 2007

Mobil dan Teknologi

AKHIR-akhir ini pasar mobil Indonesia mulai diramaikan kembali oleh mobil-mobil model terbaru dari berbagai merek. Meskipun belum seramai seperti sebelum krisis moneter melanda negeri ini pada paruh kedua tahun 1997, namun pasar mobil mulai menunjukkan perbaikan yang menggembirakan.

Merek-merek yang sudah lama merambah negeri ini, seperti BMW, Daihatsu, Honda, Isuzu, Land Rover, Mercedes Benz, Mitsubishi, Nissan, Opel, Peugeot, Suzuki, Toyota, Volkswagen, Volvo, mulai didampingi oleh merek-merek baru, yakni Audi, Cherokee, Daewoo, Hyundai, KIA, dan Range Rover. Simak saja beberapa pameran otomotif terakhir.

Kapasitas mesin mobil-mobil yang ditawarkan pun tidak lagi terbatas sampai pada kelas 2.000-an cc saja, melainkan juga meningkat ke kelas 3.000-an cc. Bahkan, beberapa mobil hadir dengan 4.000 cc ke atas. Yang terakhir adalah Chevrolet Blazer, yang hadir dengan mesin 4.300 cc.

Dan, mobil-mobil yang hadir pun tidak lagi sekadar mobil, melainkan mobil yang sarat dengan teknologi tinggi (high-tech). Terutama mobil-mobil papan atas. Tidak heran bila orang kerap menyebut mobil-mobil itu sebagai komputer berjalan.

Penerapan teknologi tinggi pada mobil itu tidak hanya dimaksudkan untuk mengejar kenyamanan (comfort), melainkan juga yang paling utama adalah mengejar keamanan atau keselamatan (safety). Bahkan, peningkatan kemampuan kinerja (performance) mesin mobil pun dikembangkan dengan tetap mempertimbangkan atau memperhitungkan dua faktor itu, yakni kenyamanan dan keselamatan.

***
PENINGKATAN kemampuan mesin dilakukan dengan menerapkan sistem pengapian dan pemasokan bensin secara elektronik, yang populer dengan sebutan electronic ignition dan electronic fuel injection. Sistem pengapian dengan platina dan penyaluran bensin ke mesin dengan menggunakan karburator sudah dianggap ketinggalan zaman.

Pada sistem pengapian dan pemasokan bensin secara elektronik konsistensi bisa lebih terjaga, sehingga tidak perlu melakukan penyetelan dari waktu ke waktu. Setiap pabrik mempunyai nama yang berbeda-beda untuk kedua sistem itu. Namun, fungsinya sama, yakni mengatur pengapian dan pemasokan bahan bakar secara elektronik agar sesuai dengan tuntutan mesin.

Selain menerapkan sistem pengapian dan pemasokan bensin secara elektronik, peningkatan kemampuan mesin dilakukan dengan memperbanyak katup atau klep (valve) untuk memasukkan bahan bakar ke silinder dan mengeluarkan sisa pembakaran dari silinder. Pada mobil lama setiap silinder hanya memiliki dua katup, yakni katup masuk dan katup keluar, sehingga sebuah mobil dengan empat silinder mempunyai 8 katup. Pada mobil baru setiap selinder mempunyai empat katup, yakni dua katup masuk dan dua katup keluar, sehingga mobil empat silinder mempunyai 16 katup. Beberapa merek menggunakan tiga katup untuk setiap silinder, satu katup masuk dan dua katup keluar.

Dengan memperbanyak katup, diharapkan bahan bakar yang masuk bisa lebih banyak, dan pada saat yang sama, sisa pembakaran bisa dikeluarkan sekaligus. Dengan demikian diharapkan pembakaran dalam ruang silinder berlangsung secara efektif, sehingga juga lebih bertenaga.

Semakin banyaknya katup pada mesin, tentu akan menambah pekerjaan bagi mekanik apabila suatu saat katup-katup itu memerlukan penyetelan.Namun, persoalan itu tampaknya sudah diantisipasi beberapa pabrik mobil, dengan juga melengkapi mobilnya dengan penyetelan katup secara elektronik. Peningkatan kemampuan mesin pun dilakukan dengan memasang perangkat turbocharger atau supercharger.

Peningkatan kemampuan mesin membuat mobil-mobil semakin mudah dipacu, atau dijalankan dengan kecepatan tinggi. Ini tentunya membawa risiko tersendiri bagi pengendara atau penumpang lainnya. Sebab semakin tinggi kendaraan dipacu, semakin tinggi pula kemungkinan terjadinya kecelakaan.

***
MANUSIA sesuai dengan takdirnya adalah pejalan kaki. Karena itu, reaksi dan kecepatan indera manusia dalam mengantisipasi gerak disesuaikan kecepatannya sebagai pejalan kaki, yakni 5 kilometer per jam. Dengan kemajuan teknologi, manusia secara bertahap bisa menyesuaikan dirinya dengan kecepatan yang lebih tinggi. Namun, sesuai kodratnya tetap saja ada keterbatasan yang tidak mungkin diatasi. Misalnya manusia tidak dapat bereaksi terhadap obyek yang secara tiba-tiba muncul dalam jarak pandangnya. Padahal semakin cepat mobil dipacu semakin besar pula kemungkinan munculnya benda-benda secara tiba-tiba dalam jarak pandang pengemudinya.

Untuk mengantisipasi hal itu produsen mobil melengkapi mobilnya dengan berbagai kemampuan, yang membuat mobil semakin mudah dan nyaman dikendalikan, bahkan juga dalam kecepatan tinggi. Selain itu, produsen mobil pun, terutama produsen mobil-mobil papan atas, juga melengkapi dengan berbagai kemampuan, yang mengakibatkan apabila terjadi kecelakaan, risiko yang dialami oleh pengendara atau penumpang lainnya tidaklah fatal.

Bukan itu saja, produsen mobil pun memasukkan all wheel streering (sistem kemudi empat roda) dan all wheel drive (pengembangan dari sistem penggerak empat roda, 4 x 4). Semua itu membuat mobil semakin mudah dikemudikan, karena penggerak pada tiap roda itu dikontrol oleh komputer yang mengukur secara tepat kebutuhan gerak pada setiap roda.

Langkah-langkah pengamanan pada mobil tidak hanya dilakukan secara pasif atau statis, melainkan juga dinamis. Secara pasif langkah pengamanan itu dilakukan dengan memperkuat kerangka mobil, memasang besi pengaman di pintu mobil (side beam), dan melengkapi mobil dengan kantung udara (airbag) yang secara otomatis akan menggelembung apabila mobil mengalami tabrakan atau benturan.

Sedangkan langkah pengamanan dinamis pada mobil itu dilakukan dengan menerapkan sistem pengereman anti-terkunci atau yang dikenal dengan nama ABS (anti-lock braking system). Sensor-sensor yang melengkapi ABS secara terukur menghentikan dan memutar roda, saat rem diinjak penuh, sehingga mobil tetap dapat dikemudikan untuk menghindari benda yang berada di depannya, sesuai dengan putaran setir yang dilakukan pengemudi. Pada mobil yang tidak dilengkapi ABS, pada saat rem diinjak penuh, roda-roda terkunci, sehingga mobil tak bisa lagi dikendalikan oleh pengemudi. Mobil akan meluncur tanpa dapat dikendalikan seperti peti tanpa roda.

Teknologi ABS diperkenalkan 9 Desember 1970 di Stuttgart, Jerman, oleh penciptanya, Hans Scherenberg, saat itu anggota Dewan Manajemen Daimler-Benz. ABS, yang kini dikenal dengan nama anti-lock braking system, pada saat diperkenalkan kepada dunia bernama anti-block system. Tentunya, kini, 29 tahun sesudahnya, sistem ABS itu sangat berkembang dan makin canggih.

Kini, produsen mobil Mercedes Benz juga melengkapi ABS dengan electronic stability program (ESP) atau sensor elektronik yang menggunakan prosessor 48 KB untuk memonitor pengendalian kendaraan. ESP memonitor akselerasi, cara mengemudi, pengereman dalam segala kondisi jalan, dan mengatasi slip saat membelok. ESP juga mengukur pengereman yang harus diterapkan pada setiap roda sesuai dengan putaran masing-masing roda, serta sekaligus menurunkan putaran mesin untuk menghindari kemungkinan slip, dan membuat mobil tetap dapat dikemudikan.

Kecanggihan ABS membuat sistem itu mendunia. Hampir semua mobil papan atas menggunakan ABS. Tidak heran apabila dalam iklan Mercedes Benz yang ditayangkan di Star TV, sama sekali tidak muncul gambar Mercedes. Yang muncul malah gambar mobil-mobil lain, seperti BMW dan Volvo, dan ditutup dengan kata-kata safety yang dilengkapi dengan lambang Mercedes Benz. *** NAMUN, harus diingat bahwa sebaik apa pun pengamanan yang melengkapi sebuah mobil, faktor fatal tidaknya risiko yang dialami saat kecelakaan sangat ditentukan faktor (kesalahan) manusia.

Masih hangat dalam ingatan tewasnya Putri Diana dan pacarnya Dodi Al Fayed akibat mobil yang ditumpanginya mengalami kecelakaan tanggal 31 Agustus 1997.
Para pakar otomotif, yang melakukan simulasi atas kecelakaan itu, berpendapat jika saja Putri Diana dan Dodi Al Fayed mengenakan sabuk pengaman, mungkin jiwa mereka terselamatkan. Seorang pengawal yang duduk di kursi depan selamat karena menggunakan sabuk pengaman, walaupun mengalami luka parah. (JL)

Artikel ini dimuat di harian Kompas, 4 September 2000, halaman 29

Label:

Kecelakaan Itu Seharusnya Bisa Dihindari



BERITA kematian Putri Diana pukul 04.00 waktu Paris (09.00 WIB) tanggal 31 Agustus 1997 mengejutkan dunia. Yang lebih mengejutkan lagi adalah kematiannya itu diakibatkan oleh suatu kecelakaan yang melibatkan mobil, yang dianggap sebagai salah satu mobil yang paling aman di dunia.



Pukul 00.30 waktu Paris (05.30 WIB), tiga setengah jam sebelumnya, mobil Mercedes Benz S-600, yang dinaiki Putri Diana dan pacarnya Dodi Al Fayed, mengalami kecelakaan di terowongan di bawah Place de l'Alma, di Distrik 8 Paris, saat melarikan diri dari para paparazzi yang mengejarnya dengan motor.

Mobil yang meluncur dengan kecepatan sekitar 160 kilometer per jam itu menabrak pilar beton pembatas di tengah-tengah terowongan, di sebelah kiri mobil. Mobil itu kemudian terpental ke kanan dan menabrak tembok terowongan.

Benturan membuat bagian depan dan tengah mobil itu ringsek berat. Dody Al Fayed tewas seketika bersama pengemudi mobil. Putri Diana yang cedera hebat dalam kecelakaan itu meninggal di rumah sakit La Pitie-Salpetriere. Pengawal Diana selamat meskipun luka parah. Menteri Dalam Negeri Perancis Jean-Piere Chevenement mengemukakan, "Tampaknya pengemudi kehilangan kontrol atas kendaraannya ketika berjalan dalam kecepatan tinggi."

Perusahaan Daimler-Benz AG di Frankfurt kemarin mengoreksi pemberitaan pers, yang menyebutkan bahwa mobil yang dinaiki Putri Diana adalah S-600. "Mobil yang dinaiki Diana adalah S-280 yang diproduksi tahun 1994, dan bukan S-600 seperti yang diberitakan secara meluas oleh media massa. Meskipun demikian, kemampuan teknologi yang membuat mobil itu aman dikendarai tidak terpaut jauh," ujar jubir Mercedes Benz.
***

PENGEMUDI kehilangan kontrol atas kendaraannya, sampai saat ini, dianggap sebagai enyebab utama terjadinya kecelakaan yang merenggut nyawa Putri Diana dan pacarnya Dody Al Fayed. Namun, mengingat reputasi dan kualitas dari kendaraan yang dinaiki pasangan Diana-Dody, menjadikan orang bertanya-tanya apa yang menyebabkan pengemudi mobil sampai kehilangan kontrol.

Seperti mobil-mobil papan atas lainnya, seperti Rolls Royce, BMW 750i/850i, Volvo 960 3.0, Jaguar Sovereign, Daimler, dan Toyota Lexus ES 300, Mercedes Benz S-600 pun dilengkapi serangkaian teknologi, yang membuat mobil-mobil itu aman dikendarai.

Mercedes Benz S-600 menggunakan ESP (Electronic Stability Program) atau sensor elektronik yang menggunakan prosesor 48 KB untuk memonitor pengendalian kendaraan. ESP memonitor peningkatan kecepatan (akselerasi) kendaraan, cara mengemudi kendaraan, pengereman dalam segala kondisi jalan, dan mengatasi slip saat membelok.

ESP pun akan mengantisipasi pengereman yang harus diterapkan pada setiap roda sesuai dengan putaran masing-masing roda, serta sekaligus menurunkan putaran mesin untuk menghindari kemungkinan slip, dan membuat mobil dapat tetap dikemudikan sesuai dengan kemauan pengemudi.

ESP, yang mencakup juga ASR (Automatic Slip Control) atau sensor kecepatan roda, yang memonitor slip yang dialami roda penggerak (drive-wheel) dalam akselerasi pada setiap kecepatan. ASR juga berhubungan dengan ABS (Anti-lock Braking System), yang memungkinkan mobil tetap bergerak secara terukur guna menghindari tabrakan, meskipun rem mobil dalam keadaan diinjak penuh.

Sensor-sensor yang melengkapi ABS, secara terukur menghentikan dan memutar roda, saat rem diinjak penuh, sehingga mobil tetap dapat menghindari benda yang berada di depannya, sesuai dengan putaran stir yang dilakukan pengemudi. Pada mobil-mobil yang tidak dilengkapi ABS, saat rem diinjak penuh, mobil tidak lagi dapat dikendalikan pengemudi. Mobil akan meluncur tidak terkendali, seperti benda mati.

Melihat paket teknologi yang menyertai mobil yang dinaiki Putri Diana, maka pertanyaannya adalah mengapa pengemudi mobil tidak dapat menghindari pilar beton pembatas itu? Mengapa setelah menabrak pilar beton, mobil tidak berhenti, tetapi malah meluncur dan membentur tembok terowongan?

Saat itu, kecepatan mobil diperkirakan 160 kilometer per jam, jauh di bawah kecepatan maksimalnya. Mobil berkapasitas mesin sebesar 5.987 cc dengan 12 silider mampu dipacu sampai sekitar 248 kilometer per jam. Dengan kemampuan akselerasi dari 0-100 kilometer per jam dalam 6,6 detik. Sedangkan S-280 kapasitas mesinnya 2.799 cc dengan enam silinder dengan kecepatan maksimum 215 kilometer per jam. Kemampuan akselerasi dari 0-100 kilometer sekitar 11 detik.

Data menyebutkan, jalan saat memasuki terowongan menurun dan agak menikung ke kanan, dan untuk menghindari kendaraan menerobos masuk ke alur jalan yang berlawanan, di pasang pilar-pilar beton sebagai pembatas. Dengan paket teknologi yang diterapkan pada mobil Mercedes Benz S-600, seharusnya kecelakaan yang terjadi di dalam terowongan di bawah Place de l'Alma bisa dihindari.

Apalagi lampu depan mobil itu menggunakan Xenon High Intensity Discharge atau sinar lampu berwarna biru-putih yang diperkuat intensitasnya. Dengan sinar lampu, yang mendekati cahaya pada siang hari itu, seharusnya pilar itu sudah terlihat dari jauh, sehingga bisa dihindari.

Di samping sistem pengamanan aktif seperti itu, mobil-mobil papan atas, termasuk Mercedes S-600, juga dilengkapi dengan pengamanan pasif. Antara lain, seperti kerangka mobil yang diperkuat, kantung udara (air bag) yang secara otomatis menggelembung saat mobil mengalami tabrakan, dan besi pengaman yang diletakkan pada pintu-pintu mobil, untuk mengamankan penumpang dari kemungkinan tabrakan dari samping.

Namun, pengamanan pasif, yang berulang kali diuji ketahanannya itu, hanya dapat melindungi penumpang secara penuh, apabila benturan itu terjadi dalam kecepatan sekitar 60 kilometer per jam. Tidak diketahui apakah kantung udara yang pada semua Mercedes Benz Kelas S terletak di depan dan di samping, dapat berfungsi meredam benturan pada kecepatan 160 kilometer per jam. Dalam beberapa kasus kecelakaan (bukan uji coba di pabrik), kantung udara malah menjadi 'pembunuh'. Karena pengemudi dan penumpangnya membentur kantung udara yang menggelembung dengan kecepatan dan tekanan yang tinggi.

Dalam keadaan darurat, atau keadaan yang tidak terhindarkan, fungsi pengamanan aktif adalah menurunkan kecepatan mobil sampai paling tidak dalam batas-batas yang dapat ditolerir oleh pengamanan pasif.
***

DALAM suatu kecelakaan, faktor (kesalahan) manusia menjadi faktor utama. Sebagus apa pun pengamanan yang melengkapi mobil, tetapi kalau pengemudinya tidak dapat diandalkan, maka semua pengamanan yang melengkapi kendaraan, baik aktif maupun pasif, menjadi percuma.

Melihat kerusakan yang dialami mobil yang dinaiki Diana-Dody, maka orang tidak mempunyai pendapat lain, kecuali kesalahan berada pada manusianya, atau tepatnya, pengemudinya. Apalagi dari data yang ada, diketahui bahwa pengemudi mobil itu bukanlah seorang pengemudi, melainkan personel keamanan. Sebab itu, diragukan apakah ia biasa mengendarai mobil dengan kecepatan sekitar 160 kilometer per jam.

Tidak semua orang dapat mengembangkan kecepatan sampai sekitar 160 km per jam, apalagi bukan di jalan bebas hambatan. Kecepatan 160 km per jam itu, sama dengan kecepatan mata mengedip. Dengan demikian, kelalaian sedikit saja, berisiko nyawa melayang.

Tanpa menutup adanya kemungkinan lain, tapi dari data yang ada, tidak ada kesimpulan lain yang bisa diambil, kecuali kesalahan manusia. Memang ada kemungkinan lain, di luar faktor kesalahan manusia, adalah pecahnya ban atau mobil itu disabotase. Sebab, pecahnya ban atau sabotase, akan mengakibatkan semua sistem pengamanan aktif tidak bekerja secara maksimal.

Namun, sampai saat terakhir kecenderungan ke arah itu kecil. Meskipun bukan tidak ada. Mobil Mercedes Benz S-600, seperti yang dikendarai Putri Diana dan Dody Al Fayed, juga masuk ke Jakarta. Menjelang berlangsungnya Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Informal Pertama ASEAN 30 November 1996 di Lagoon Tower Jakarta Hilton Hotel, didatangkan 14 sedan Mercedes Benz S-600. Mobil-mobil itu kemudian dijual dengan harga sekitar Rp 2 milyar. (JL)




Artikel ini dimuat di harian
Kompas, 2 September 1997, halaman 1


Label:

Minggu, 18 November 2007

Berlomba Buat Mobil yang Ramah dengan Alam

Semakin berkurangnya jumlah cadangan minyak bumi dan semakin meningkatnya pemanasan Bumi telah membuat perusahaan pembuat mobil terkemuka dunia berlomba-lomba membuat mobil-mobil yang efisien dalam mengonsumsi bahan bakar minyak dan sekaligus ramah dengan alam, khususnya dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup.

Berbagai cara telah ditempuh, mulai dari menciptakan mobil listrik, mobil hibrida (hybrid) yang menggabungkan mesin pembakaran dalam (internal combustion engine) dan motor listrik; mobil fuel cell atau mobil listrik yang memiliki sumber listriknya sendiri, yang diperoleh dari penggabungan gas hidrogen dengan oksigen; sampai mesin pembakaran dalam yang menggunakan bio-bahan bakar (biofuel) atau yang juga sering disebut sebagai bahan bakar nabati, gas (compressed natural gas), atau hidrogen sebagai bahan bakar.


Itu sebabnya di dalam Tokyo Motor Show 2007 sebagian besar mobil yang dipamerkan, baik yang konsep maupun yang diproduksi massal, adalah mobil-mobil ramah terhadap manusia dan alam. Yang paling populer saat ini adalah mobil hibrida yang menggabungkan mesin pembakaran dalam yang menggunakan bahan bakar bensin atau solar dengan motor listrik yang mendapatkan listrik dari baterai.

Pada saat ini ada dua jenis mobil hibrida. Pertama, yang menggunakan mesin bensin (di Eropa juga menggunakan mesin diesel) sebagai penggerak utama dan motor listrik sebagai penggerak tambahan. Kedua, yang menggunakan motor listrik sebagai penggerak utama dan
mesin bensin sebagai penggerak tambahan.

Pada jenis yang pertama, mobil digerakkan oleh mesin bensin diesel dan apabila mobil memerlukan tambahan tenaga pada saat berakselerasi (meningkatkan kecepatan) atau menanjak, maka motor listrik akan membantu. Adapun pada jenis yang kedua, mobil digerakkan oleh motor listrik dan pada saat berakselerasi atau menanjak maka mesin bensin/mesin diesel akan membantu. Jika diperlukan tenaga yang lebih besar, baterai akan menyalurkan tenagalistrik tambahan pada motor listrik.

Baik pada jenis mobil hibrida yang pertama maupun yang kedua, motor listrik mendapatkan listrik dari baterai yang diisi (di-charge) pada saat mobil mengurangi kecepatan (deselerasi) atau melaju di turunan, atau juga pada saat mobil direm.

Pada saat mobil mengurangi kecepatan atau melaju di turunan, atau juga pada saat mobil direm, motor listrik akan berfungsi sebagai generator (penghasil listrik) yang mendapatkan tenaganya dari putaran roda dan listrik yang dihasilkan akan digunakan untuk mengisi baterai.

Hanya mengisi baterai

Kini tengah dikembangkan jenis mobil hibrida yang ketiga, yang lebih efisien dalam menggunakan bensin dan lebih ramah lingkungan daripada jenis yang pertama dan kedua. Mengingat pada jenis yang ketiga ini, mobil sepenuhnya digerakkan oleh motor listrik pada
keempat rodanya yang mendapatkan listrik dari baterai. Mesin bensin hanya berfungsi untuk mengisi baterai jika persediaan listrik menipis. Pada saat mobil diparkir untuk waktu yang lama di rumah atau di kantor, baterai dapat diisi dengan menggunakan colokan listrik (plug in).

Dengan keadaan baterai terisi penuh, mobil dapat menempuh perjalanan sejauh 100 kilometer. Jika persediaan listrik masih cukup sampai kembali kerumah atau ke kantor, baterai dapat diisi kembali dengan menggunakan colokan listrik. Dengan demikian, bensin bisa dihemat karena mesin tidak perlu digunakan untuk mengisi baterai.

Jenis mobil hibrida yang ketiga ini pada hakikatnya adalah mobil listrik yang memiliki sumber listriknya sendiri. Dengan demikian, mobil itu dapat digunakan ke mana saja, tanpa perlu khawatir persediaan listrik di dalam baterai habis sehingga mobil tak bisa digunakan. Sebab, begitu persediaan listrik dalam baterai menipis, maka mesin bensin secara otomatis akan menyala dan mengisi listrik di dalam baterai. Mesin akan mati sendiri apabila persediaan listrik di dalam baterai terisi penuh kembali.(JL)

Artikel ini dimuat di harian
Kompas, 16 November 2007, halaman 46

Label: