Rabu, 27 Maret 2019

"Vox Populi, Vox Dei"


Dalam sistem demokrasi, kita mengenal ungkapan dalam bahasa Latin, Vox populi, vox Dei, yang terjemahannya adalah suara rakyat adalah suara Tuhan. Ungkapan itu menjadi kenyataan setiap kali diadakan pemilihan Presiden yang di Indonesia berlangsung 5 tahun sekali.

Ungkapan itu tidak mengada-ada. Pada setiap kali pemilihan Presiden dilangsungkan, suara rakyatlah yang menentukan siapa di antara calon Presiden akan keluar sebagai pemenang, dan memerintah untuk 5 tahun mendatang. Dengan kata lain, di dalam pemilihan Presiden, suara rakyat seperti sama saktinya dengan suara Tuhan.

Seorang Presiden boleh saja menjadi orang yang paling berkuasa di negeri ini selama 5 tahun. Akan tetapi, pada saat ia mengajukan diri untuk menjadi calon Presiden untuk periode 5 tahun yang kedua, ia tidak dapat menggunakan kekuasaannya untuk memenangkan dirinya. Ia memerlukan suara rakyat untuk membuat dirinya keluar sebagai pemenang.

Tidak heran, jika kedua calon Presiden Indonesia untuk periode 2019-2014, berkampanye habis-habisan untuk mendapatkan raihan suara rakyat yang terbanyak sehingga terpilih sebagai Presiden.

Dalam pemilihan Presiden yang akan berlangsung pada tanggal 17 April 2019, secara teoretis Presiden Joko Widodo, yang akrab disapa Jokowi, memang berada dalam ”posisi yang lebih baik” daripada penantangnya, calon Presiden Prabowo Subianto. Mengapa berada dalam ”posisi yang lebih baik”, karena calon Presiden Jokowi sudah membuktikan diri dengan memerintah selama 5 tahun, dari tahun 2014-2019. Hasil kerjanya nyata bukan sekadar janji. Berbeda dengan calon Presiden Prabowo Subianto yang baru mengutarakan janji.

Akan tetapi, apakah ”posisi yang lebih baik” akan memenangkan calon Presiden Jokowi, tidak ada yang dapat mengetahuinya, apalagi memastikannya. Bisa iya, tetapi bisa juga tidak. Kepastian itu baru didapat setelah pemilihan Presiden dilakukan, dan jumlah suara dihitung.

Namun, menunggu hingga jumlah suara selesai dihitung, dirasakan terlalu lama, untuk itulah diadakanlah survei-survei untuk memperkirakan perolehan raihan suara dari setiap calon Presiden. Dari sekian banyak survei yang ada, sebagian besar memperlihatkan bahwa calon Presiden Jokowi, akan meraih suara yang lebih banyak daripada yang diraih oleh calon Presiden Prabowo Subianto.

Akan tetapi, apakah itu menjamin bahwa calon Presiden Jokowi akan menang? Sulit untuk menjawabnya. Survei-survei itu memang menggunakan metodologi yang memungkinkan pembuat survei memperkirakan raihan suara yang diraih masing-masing calon Presiden. Dan, dalam beberapa kesempatan , perkiraan raihan suara itu memiliki tingkat presisi yang mencengangkan.

Yang tidak boleh dilupakan, survei-survei itu dilakukan pada suatu periode waktu tertentu. Sebab itu, kerap kali disebutkan, jika pemilihan Presiden itu diadakan pada saat survei-survei itu dilakukan maka hasil raihan suara akan serupa dengan hasil survei-survei itu.

Calon Presiden Jokowi berharap agar suasana pada saat pemilihan Presiden itu sama dengan suasana pada saat survei-survei itu dilakukan sehingga ia akan keluar sebagai pemenang. Sebaliknya, calon Presiden Prabowo Subianto berharap agar suasananya berbeda sehingga ia yang akan keluar sebagai pemenang.

Itulah indahnya demokrasi. Pada saat pemilihan Presiden, rakyatlah yang paling berkuasa. Rakyatlah yang sepenuh menentukan siapa yang akan menjadi Presiden untuk periode 2019-2024. Vox populi, vox Dei.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda