Minggu, 21 Februari 2010

Winner Takes All

Pencapaian Mercedes Benz di Indonesia pada tahun 2009 membuat Rudi Borgenheimer, Presiden dan CEO Mercedes Benz Indonesia, bisa menepuk dada dengan bangga. Bagaimana tidak, pada tahun 2009, Mercedes Benz mendominasi di semua segmen mobil papan atas, mulai dari C-Class, E-Class, S-Class, sampai M-Class. Bukan itu saja, Mercedes Benz pun memperbesar pangsa pasar mobil papan atas Indonesia dari 67,4 persen menjadi 68,8 persen.



Sepanjang perjalanannya di Indonesia, Mercedes Benz sudah beberapa
kali mendominasi penjualan mobil papan atas. Namun, mendominasi semua
segmen mobil papan atas itu tidak pernah terjadi sebelumnya. Itu
sebabnya, pencapaian Mercedes Benz tersebut adalah sesuatu yang
membanggakan.
C-Class menempati segmen mobil kompak papan atas bersama dengan
Audi A4, BMW Serie 3, dan Jaguar R-Type. Pada masa yang lalu, segmen
mobil kompak papan atas kerap didominasi oleh BMW Serie 3.
E-Class, yang tercatat sebagai mobil paling laris di segmen mobil
menengah papan atas, menempati segmen itu bersama Audi A6, BMW Serie
5, dan Jaguar S-Type.
Sejak New S-Class diluncurkan tahun 2005, S-Class menjadi mobil
yang paling laku di segmen mobil fullsize papan atas bersama dengan
Audi A8, BMW Serie 7, Jaguar XJ8, dan Lexus LS 460.



Yang istimewa, pada tahun 2009, M-Class, sport utility vehicle
(SUV) dari Mercedes Benz, juga menempati urutan teratas dalam segmen
yang juga ditempati oleh Audi Q5, Audi Q7, BMW X3, BMW X5, Lexus
RX350, dan Lexus LX570.

Tidak berlebihan jika kita mengutip judul novel Inggris karangan
Jacqueline Rayner, atau judul album lagu Isley Brothers tahun 1979,
"Winner Takes All" (Pemenang Mengambil Semuanya), untuk menggambarkan
pencapaian Mercedes Benz itu.

Dengan mendominasi keempat segmen itu, bisa dikatakan sebagai
pemenang, Mercedes Benz mengambil semuanya. Itu mestinya tidak
mengherankan mengingat Mercedes Benz bukanlah pendatang baru di
Indonesia.

Benz, yang pada tahun 1926 bergabung dengan Daimler (Mercedes),
sudah hadir di negara ini 116 tahun lalu. Benz pertama di Indonesia
adalah milik Susuhunan Solo Paku Buwono IX. Mobil itu tiba di Pulau
Jawa melalui Pelabuhan Semarang pada tahun 1894, pada saat Indonesia
berada masa pendudukan Belanda dan bernama Nederlands Indie (Hindia
Belanda).



Benz kedua tiba tahun 1897, milik AH Pröttle, keturunan Jerman,
salah seorang pemilik toko Pröttle & Co yang berlokasi di Passer
Besar, Surabaya, tempat Paku Buwono IX memesan mobil Benz-nya. Benz
ketiga adalah milik Prof Dr W Schruffner di Medan, Sumatera Utara,
tahun 1902.



Daimler baru masuk ke Indonesia pada tahun 1907, terpaut 13 tahun
dengan Benz. Sementara Mercedes Benz pertama hadir di Indonesia pada
tahun 1928, milik KE Schütt, seorang pembalap kelompok perkebunan di
Surabaya.

Unik

Walaupun secara umum bisa dikatakan bahwa pasar otomotif nasional
mengalami kesulitan, karena krisis keuangan yang melanda dunia,
uniknya pasar mobil papan atas mengalami peningkatan. Penjualan mobil
papan atas secara nasional meningkat dari 3.598 unit menjadi 4.190
unit. Dari jumlah itu, Mercedes Benz menjual 2.884 unit, naik 19
persen daripada penjualan tahun 2008 yang hanya 2.424 unit. Itu
sebabnya, Rudi Borgenheimer yakin dapat meneruskan kesuksesan tahun
2009 pada 2010, yang diyakini keadaan ekonominya lebih baik daripada
tahun 2009.

Namun, pada tahun 2010, Mercedes Benz Indonesia perlu kerja keras
jika ingin mempertahankan dominasinya mengingat pesaing-pesaingnya
tentu tidak diam saja. BMW Indonesia turun dengan BMW 730iL serta BMW
X5 M, dan Lexus akan masuk dengan Lexus LS 600h yang merupakan mobil
hibrida. Lexus LS 600h itu akan merupakan satu-satunya mobil hibrida
di kelasnya.(JL)


Artikel ini dimuat di Harian Kompas, 15 Januari 2010, halaman 36


Label:

Kamis, 21 Januari 2010

New Compact Coupe Volkswagen

Tahun 2010 akan merupakan tahun yang istimewa bagi Volkswagen mengingat dalam satu tahun ini perusahaan pembuat mobil asal Jerman itu akan memperkenalkan beberapa model baru. Urutan pertama dalam daftar model baru yang akan diperkenalkan pada tahun 2010 ini adalah mobil yang benar-benar baru, baik secara konsep maupun teknologi. Mobil adalah sebuah coupe dengan tenaga penggerak hibrida yang sangat cepat dan sangat hemat dalam mengonsumsi bahan bakar.

Sebuah coupe adalah sebuah mobil yang berpintu dua dan dapat memuat empat orang. Sedangkan tenaga penggerak hibrida menggabungkan mesin pembakaran dalam (internal combustion engine) yang menggunakan bahan bakar minyak dengan motor listrik (electric motor).

Mobil yang berpenampilan sport dan elegan itu diberi nama New Compact Coupe dan pertama kali dimunculkan di Detroit Motor Show 2010 yang berlangsung 11-24 Januari di Amerika Serikat.



New Compact Coupe memang mobil yang luar biasa. Konsumsi bahan bakarnya 4,2 liter untuk menempuh perjalanan sejauh 100 kilometer, atau 1 liter untuk menempuh perjalanan sejauh 23,8 kilometer. Dan, emisi CO2: 98 gram per kilometer.

Catatan tentang konsumsi bahan bakar New Compact Coupe menjadi luar biasa karena mobil itu dapat dipacu hingga kecepatan maksimum 227 kilometer per jam. Dan, waktu yang diperlukan untuk berakselerasi sampai 100 kilometer per jam dari posisi berhenti hanya 8,6 detik, cukup cepat untuk sebuah mobil hibrida.

Performa New Compact Coupe yang luar biasa itu ditunjang oleh sebuah mesin TSI yang menghasilkan tenaga maksimum 148 PK dan motor listrik yang bertenaga maksimum 25 PK. Semua tenaga itu disalurkan melalui persneling otomatik dengan 7 tingkat kecepatan yang dilengkapi tiptronic (DSG) sehingga pengendara dimungkinkan untuk melakukan pergantian gigi persneling secara manual.

Mesin TSI itu menggabungkan supercharger dengan turbocharger, atau twincharger, untuk melipatgandakan tenaga dan torsi maksimum. Teknologi yang sama juga digunakan oleh Volkswagen Golf GT. Supercharger digerakkan oleh kruk as (crankshaft), sedangkan turbocharger digerakkan oleh gas buang mesin.



Karena digerakkan oleh kruk as, keunggulan supercharger adalah sudah berfungsi pada putaran mesin rendah (di bawah 3.000 rpm), tetapi kelemahannya, dalam putaran tinggi (di atas 3.000 rpm) membebani mesin sehingga boros bahan bakar. Sedangkan karena digerakkan oleh gas buang, keunggulan turbocharger sama sekali tidak membebani mesin, tetapi kelemahannya baru berfungsi pada putaran mesin tinggi. Mesin TSI menggabungkan keunggulan supercharger dan turbocharger.

Dengan kata lain, pada putaran mesin rendah, yang berfungsi adalah supercharger. Pada putaran tinggi, supercharger dinonaktifkan dan perannya digantikan oleh turbocharger. Pada saat putaran mesin rendah kembali, turbocharger dinonaktifkan dan supercharger diaktifkan kembali. Pada saat pergantian itu berlangsung di kisaran 3.000 rpm, ada sedikit waktu di mana supercharger dan turbocharger bekerja bersama-sama.



Asyik dikendarai
Dengan New Compact Coupe ini, Volkswagen menegaskan kiprahnya bahwa mobil hibrida yang mereka produksi tidak hanya hemat dalam mengonsumsi bahan bakar (baik bensin maupun solar), tetapi juga sporty dan asyik dikendarai.

Pada paruh pertama tahun ini, Volkswagen akan meluncurkan mobil hibridanya yang pertama, yakni sebuah sport utility vehicle (SUV), dengan penggerak empat roda permanen. Sedangkan New Compact Coupe memperlihatkan, baik secara visual maupun secara teknis, bagaimana Volkswagen mencita-citakan sebuah mobil hibrida kompak dengan penggerak roda depan.(JL)

Artikel ini dimuat di harian Kompas, 22 Januari 2009, halaman 43


Label:

Kamis, 07 Januari 2010

Mercedes Benz E-Class Cabriolet

Detail tentang Mercedes Benz E-Class Cabriolet mulai dikeluarkan. Sulit untuk menyangkal bahwa mobil yang sesungguhnya merupakan coupe cabriolet itu terlihat keren. Pada saat yang sama, juga sama sulitnya untuk mengatakan bahwa sosok mobil itu tidak menarik. Moto yang disandangnya unik, empat musim, empat kepribadian.
E-Class Cabriolet adalah sebuah coupe, mobil berpintu dua yang dapat memuat empat orang dewasa, dan juga cabriolet, mobil yang atapnya dapat dibuka tutup (Amerika Serikat: convertible).



Sebuah mobil dengan atap terbuka sangat cocok untuk digunakan di kawasan pegunungan, khususnya pada pagi hari atau pada malam hari ketika suhu udara sejuk dan segar. Terpaan angin sejuk terasa sangat nyaman di kabin. Pada saat udara mulai terasa panas, atau hujan turun, pengendara dapat menutup atap dengan menekan tombol.
Jika kulit berwarna putih itu sangat penting bagi Anda, sebaiknya Anda menggunakan mobil atap terbuka di kawasan pegunungan malam hari. Kecuali jika Anda menggunakan krim pelindung dari sinar Matahari.

E-Class Cabriolet adalah pengembangan dari E-Class Coupe standar, yang merupakan mobil yang sudah sempurna. Itu sebabnya, dalam membuat E-Class Cabriolet, Daimler Benz AG memusatkan perhatian pada pembuatan mobil yang memberikan pengalaman udara terbuka dan sekaligus kenyamanan.
Untuk dapat menikmati udara terbuka dengan nyaman, pada E-Class Cabriolet diperkenalkan tiga teknologi baru.

Pertama, AIRCAP® automatic draught-stop, atau penahan aliran angin otomatis. AIRCAP® adalah solusi mekanis bagi masalah (problem) yang muncul pada saat mobil atap terbuka melaju cepat dalam cuaca dingin, dengan menempatkan deflektor di kaca depan, dan net (jaring) pada kerangka kaca depan, serta penahan aliran angin (draught-stop) di antara kursi belakang. Dengan demikian, pengendara dan penumpang E-Class Cabriolet dapat menikmati udara terbuka dengan nyaman walaupun dalam cuaca dingin.



Kedua, AIRSCARF® neck-level heating system, atau sistem pemanasan di sekitar leher, yang sudah dimodifikasi. AIRSCARF® melengkapi sistem manajemen udara pada mobil atap terbuka keluaran Mercedes Benz yang sudah dinilai terbaik di kelasnya.
AIRSCARF® yang ditempatkan di sandaran kursi depan, meniupkan udara hangat melalui saluran udara di pelindung kepala (head restraint). Ini tentunya pada cuaca dingin. Pada cuaca panas tentunya yang diharapkan adalah tiupan udara dingin.



Ketiga, acoustic soft top, atau atap lunak yang senyap. Dalam keadaan atap ditutup, kabin E-Class Cabriolet akan sangat senyap, mirip suasana kabin cabriolet yang menggunakan atap keras (hard top). Kesenyapan itu diperoleh berkat penggunaan acoustic soft top.

E-Class Coupe merupakan salah satu mobil yang paling aerodinamis di kelasnya. E-Class Cabriolet pun memiliki tingkat coefficient drag (hambatan tahanan angin) 0,28, yang diklaim Daimler Benz AG yang terbaik di kelasnya. (JL)

Artikel ini dimuat di harian Kompas, 8 Januari 2010, halaman 36



Label:

Minggu, 20 Desember 2009

S500 L, Sukses dan Gaya Hidup

Kesuksesan dan pencapaian dalam hidup dapat diekspresikan dengan
berbagai hal. Salah satunya adalah dengan memiliki Mercedes Benz S500 L.
Tidak dapat dimungkiri bahwa Mercedes Benz S-Class dapat dijadikan
simbol status bagi pemiliknya, simbol dari kesuksesan atau pencapaian
dalam hidupnya. Atau, jika dinyatakan dalam kalimat pendek, you are
what you drive..


Duduk di dalam Mercedes Benz S500 L memang berbeda. Mobil yang
yang tergabung dalam flagship (model teratas) Mercedes Benz itu sarat
dengan teknologi inovatif, khususnya yang berkaitan dengan keamanan
dan kenyamanan. Bukan itu saja, New S-Class juga menetapkan standar
baru dalam keasyikan dan kelincahan berkendara.

Dan, dengan memiliki New S-Class, secara otomatis gaya hidup
seseorang pun akan berbeda. Ia akan memasuki kehidupan kalangan jetset
dengan berbagai atributnya. Bukan hanya itu, istilah the sky is the
limit tentunya tidak berlaku bagi kalangan itu.
Kemacetan lalu lintas, siapa takut..



Mercedes Benz S500 L dapat dikategorikan sebagai mobil pengendara
dan penumpang sekaligus. Dengan kata lain, S500 L asyik bagi
pengendaranya dan juga asyik bagi penumpangnya. Hal itu termasuk
jarang bagi mobil papan atas fullsize yang pada umumnya lebih
berorientasi kepada penumpang, khususnya penumpang kursi belakang.

Dengan menyandang mesin berkapasitas 5.461 cc, 8 silinder dalam
konfigurasi V (V8), S500 L terasa sangat bertenaga. Injakan ringan
pada pedal gas (akselerator) S500 L membuat mobil melesat cepat.
Kecepatan 100 kilometer per jam dari posisi berhenti dapat dicapai
dalam waktu 5,4 detik. Cukup cepat untuk sebuah mobil penumpang papan
atas fullsize.



Tenaga maksimum yang dihasilkan mesin yang disandang S500 L itu
388 PK pada 6.000rpm dan torsi maksimum 530 Nm pada 2.800-4.800 rpm.
Namun, karena tenaga dan torsi yang besar itu disalurkan ke roda
belakang (rear wheel drive) melalui persneling otomatik, dengan 7
tingkat kecepatan yang dilengkapi tiptronic (7G-Tronic), maka
pertambahan kecepatan berlangsung dengan halus. Kecepatan maksimum
dibatasi secara elektronik pada kecepatan 210 kilometer per jam.

Namun, jika ingin menikmati performa mesin S500 L hingga ke batas,
pengendara tinggal melakukan kickdown hingga 4.800 rpm dan memastikan
setiap pergantian gigi persneling berlangsung antara 2.800 rpm dan
4.800 rpm. Jika kurang puas, pengendara dapat mengoperasikan
tiptronic, dengan menaikkan dan menurunkan gigi persneling secara
manual.

Tak berlebihan
Klaim pabrik bahwa New S-Class telah menetapkan standar baru dalam
keasyikan dan kelincahan berkendara memang tidak berlebihan. Untuk
sebuah sedan papan atas fullsize, kelincahan S500 L sangat menonjol.

Saat mengemudikan S500 L di ruas jalan tol dalam kota dari kawasan
Semanggi sampai ke luar di kawasan Cawang yang cukup padat, mobil itu
cukup lincah sehingga mudah melakukan manuver di antara mobil-mobil
yang melintas lambat di ruas tol tersebut.

Sebagai mobil yang kapasitas mesinnya 5.4 Liter, konsumsi bensin
S500 L lumayan hemat, termasuk apabila dibandingkan dengan mobil yang
kapasitas mesinnya 2.0 Liter. Dengan 1 liter bensin, S500 L dapat
menempuh perjalanan sejauh 8,9 kilometer. Walaupun mungkin hal itu
tidak dianggap hal yang besar bagi pemiliknya. Sebab, jika seseorang
sudah berani mengeluarkan uang sekitar Rp 2,6 miliar untuk membeli
S500 L, kenapa harus pusing dengan konsumsi bensinnya?

Dan, soal emisi, tak perlu khawatir, S500 L aslinya dibuat untuk
memenuhi standar Euro 5. Namun, khusus untuk S500 Lyang dipasarkan di
Indonesia, telah dilakukan penyesuaian sehingga dapat menggunakan
bahan bakar di dalam negeri yang kualitasnya masih rendah dengan aman.
(JL)

Artikel ini dimuat di harian Kompas, 11 Desember 2009, halaman 36





Label:

Selasa, 08 Desember 2009

Suzuki Raih Posisi Pertama dari JD Power

Pekan lalu, dalam siaran pers yang dikeluarkan JD Power Asia Pacific, disebutkan Suzuki dan Toyota meraih peringkat tertinggi dalam kualitas mobil baru dari JD Power Asia Pacific. Kedua merek itu mendominasi empat segmen mobil yang diteliti JD Power Asia Pacific untuk 2009 Indonesia Initial Quality Study berdasarkan respons dari 2.034 pemilik kendaraan baru.


”Kualitas mobil baru yang baik membantu pabrikan meraih kepercayaan pelanggan. Produk mereka semakin diterima di pasar. Juga akan memelihara kesetiaan pelanggan terhadap suatu merek dan mendatangkan pembeli baru dealer melalui rekomendasi positif,” papar Rajeev Nair, Senior Manager JD Power Asia Pacific, Singapura.
Reaksi pertama atas siaran pers itu adalah Suzuki? Apa tidak salah? Reaksi seperti itu wajar- wajar saja. Sebab, biasanya merek yang muncul adalah kalau bukan Honda, ya Toyota. Bahkan, bisa dikatakan bahwa Honda dan Toyota adalah dua merek langganan pemenang JD Power. Itu sebabnya, ketika pekan lalu merek yang muncul adalah Suzuki dan Toyota, banyak orang yang sulit memercayainya.

Ternyata kemenangan itu bukanlah suatu keberuntungan belaka, melainkan merupakan buah dari perbaikan-perbaikan yang dilakukan oleh Direktur Pemasaran PT Suzuki Indomobil Sales Endro Nugroho.

Menurut Endro Nugroho, menyediakan mobil baru yang berkualitas memang penting, tetapi itu saja belumlah cukup. Pelayanan (service) juga penting, termasuk penyambutan terhadap pembeli yang datang ke dealer dan layanan purnajual (after sales service), termasuk penyediaan suku cadang.

Menjual mobil berbeda dengan menjual telepon genggam (handphone). Orang yang membeli telepon genggam tidak akan datang kembali ke toko kecuali telepon genggam yang dibelinya mengalami gangguan atau rusak. Sedangkan orang yang membeli mobil akan berulang kali kembali ke dealer untuk melakukan perawatan berkala. Bisa dikatakan, dalam penjualan mobil, hubungan antara dealer dan pembeli sangat dekat.

Benahi dealer
Itu sebabnya, Endro Nugroho berupaya membenahi dealer-dealer Suzuki agar mereka menyadari sepenuhnya peran dealer dalam membina hubungan dengan pembeli dan calon pembeli.

Ini mengingat dalam menjual mobil, hubungan yang baik antara dealer dan pembeli harus dijalin sejak pembeli pertama datang, yakni dengan memberikan sambutan yang ramah dan simpatik. Lalu, memberikan produk yang berkualitas, kemudian melayani dengan baik saat pembeli datang kembali untuk melakukan perawatan berkala atau memperbaiki kerusakan serta menyediakan mekanik yang terampil dan suku cadang yang diperlukan.



Jika semua itu dilakukan dengan baik, dapat dipastikan dealer akan mendapatkan pembeli- pembeli yang loyal. Dalam bisnis jual beli mobil, keuntungan tidak hanya didapat saat mobil dijual. Keuntungan juga diperoleh saat pembeli membawa kembali mobilnya untuk melakukan perawatan berkala atau memperbaiki kerusakan yang terjadi pada mobil yang dibelinya. Bahkan, keuntungan yang didapat lebih besar daripada saat mobil dijual. (JL)

Artikel ini dimuat di harian Kompas, 4 Desember 2009, halaman 37

Label:

Q5, Mobil Lintas Alam Papan Atas

Jika Anda memiliki jiwa petualang atau gemar melakukan petualangan dan berpenghasilan lumayan tinggi, Q5, sport utility vehicle compact dari Audi, bisa menjadi salah satu pilihan.
Mobil yang diluncurkan pada 16 Juli lalu di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, itu menyandang mesin berkapasitas 2.0 Liter (1.984 cc), 4 silinder segaris, menggunakan injektor bahan bakar langsung (FSI), diperkuat turbocharger, dan dilengkapi penggerak empat roda (quattro).



Perjalanan dengan Q5 tidak berhenti pada saat jalan aspal berakhir. Mobil lintas alam (cross country) yang menggunakan persneling otomatik dengan 7 tingkat kecepatan yang dilengkapi dengan teknologi S-Tronic itu didesain untuk menjelajahi dua medan, onroad dan offroad.

Yang perlu dilakukan pengendara hanyalah menginjak pedal rem, memindahkan tuas persneling dari huruf P (parking) ke huruf D (drive), melepaskan injakan kaki kiri dari pedal rem, memindahkannya ke pedal gas, dan melakukan kickdown (menginjak pedal gas dalam-dalam). Mobil akan melesat cepat dengan mantap.
Sebagai sport utility vehicle (SUV), Q5 memang cukup tangguh. Dalam keadaan normal, pembagian torsi untuk roda depan dan belakang 40 : 60. Jika diperlukan, torsi ke roda depan dapat ditingkatkan hingga 65 persen, sedangkan untuk roda belakang torsi dapat ditingkatkan sampai 85 persen. Q5 yang memiliki ketinggian dari permukaan tanah (ground clearance) 20 sentimeter itu dapat dengan mudah melintas di genangan air sedalam 50 sentimeter.



Selintas, Q5 yang dijual dengan harga Rp 930 juta itu tampak serupa dengan Volkswagen Tiguan. Namun, jika diamati dengan saksama, Q5 20 sentimeter lebih panjang daripada Tiguan dan interiornya sama sekali berbeda. Dan, tidak seperti Tiguan yang menempatkan mesinnya melintang (transverse), Q5 menempatkan mesinnya memanjang (longitudinal).



Pekan lalu Kompas mengemudikan Q5 menuju ranch kuda tunggangan Arthayasa di kawasan Meruyung, Cinere, Depok, Jawa Barat. Perjalanan menuju Meruyung itu tak terasa jauh
dan menyulitkan. Kesenyapan di dalam kabin membuat perjalanan yang cukup jauh itu terasa santai.
Bahkan, perbaikan jalan yang tengah dilakukan di sana-sini tidak membuat perjalanan dengan Q5 terganggu. Permukaan jalan yang berlubang pun ditaklukkan dengan mudah.

Cukup cepat
Memang dibandingkan dengan Q5 3.0 TDI yang bermesin diesel, yang pernah dikendarai Kompas akhir November 2008, torsi Q5 2.0 TFSI lebih kecil. Q5 3.0 TDI menghasilkan torsi maksimum sebesar 500 Nm pada 1.500-3.000 rpm, sedangkan Q5 2.0 TFSI menghasilkan torsi maksimum 350 Nm pada 1.500-4.200 rpm.

Namun, dengan tenaga maksimum 211 PK yang dihasilkan pada 6.000 rpm, Q5 2.0 TFSI melesat dengan cepat dari 0-100 kilometer per jam. Kecepatan 100 kilometer per jam dapat dicapai hanya dalam 7,2 detik dari posisi berhenti, cukup cepat untuk sebuah SUV.

Penggunaan persneling otomatik dengan 7 tingkat kecepatan membuat pertambahan kecepatan itu berlangsung halus tanpa sentakan. Jika diinginkan, pengendara dapat melakukan pergantian gigi persneling secara manual tanpa kehadiran pedal kopling. Klaim pabrik menyebutkan, kecepatan maksimum Q5 2.0 TFSI mencapai 219 kilometer per jam.

Dengan panjang 4,630 meter, lebar 1,880 meter, dan tinggi 1,650 meter, Q5 termasuk kategori SUV compact. Dan, dengan dimensi seperti itu, Q5 asyik digunakan di pinggiran Jakarta yang ruas jalannya tidak terlalu lebar. Tak terasa, Q5 telah memasuki ranch Arthayasa yang luas dan asri. (JL)

Artikel ini dimuat di harian Kompas, 4 Desember 2009, halaman 37

Label:

Sabtu, 21 November 2009

730 Li, Varian Serie 7 Baru dari BMW

Pedal gas diinjak dalam-dalam dan BMW 730 Li melesat cepat di Jalan Tol Jagorawi, pekan lalu. Sore itu Jalan Tol Jagorawi agak lengang hingga perjalanan menuju Jakarta berlangsung singkat. Memang di beberapa ruas jalan laju mobil sempat tertahan sejenak karena ada beberapa mobil yang melaju lambat di lajur paling kanan, tetapi selebihnya perjalanan bisa dikatakan sangat lancar.


Hujan lebat yang turun sejak berangkat dari Cimory, Bogor, membuat mobil-mobil meluncur lambat. Baik itu di ruas jalan pegunungan di kawasan Mega Mendung, Bogor, maupun di ruas Jalan Tol Jagorawi. Dengan demikian, 730 Li dapat dengan mudah dipacu mendahului mobil-mobil tersebut.

Dengan menggunakan rain sensor yang ditempatkan di kaca depan, di balik kaca spion dalam, kecepatan wiper disesuaikan dengan banyaknya tetesan air yang menerpa kaca depan sehingga pandangan pengendara ke depan sangat jelas.

Pada hari itu hujan deras turun merata hingga ke Jakarta. Bahkan, saat mobil melintas di ruas jalan Pondok Indah, genangan air di permukaan jalan cukup tinggi. Namun, 730 Li tidak mengalami kesulitan untuk melintasi ruas jalan itu.



Cukup bertenaga
Memang tenaga dan torsi yang dihasilkan mesin 3.0 Liter (2.996 cc) yang disandang BMW 730 Li tidaklah sedahsyat tenaga yang dihasilkan mesin 4.4 Liter (4.395 cc) yang diperkuat dua turbocharger yang disandang BMW 750 Li.

Namun, mesin 3.0 Liter, 6 silinder segaris itu cukup bertenaga sebagai penggerak sedan papan atas fullsize. Dan, karena mesin yang disandang 730 Li itu naturally aspirated, atau tidak diperkuat turbocharger, maka penyaluran tenaga dan torsi dari mesin ke roda belakang melalui persneling otomatik dengan 6 tingkat kecepatan berlangsung stabil pada setiap putaran mesin. Dan, penggunaan teknologi steptronic membuat pengendara dalam melakukan pergantian gigi persneling secara manual tanpa kehadiran kopling.

Injakan kaki ringan pada pedal gas 730 Li langsung membuat mobil melesat cepat. Dan, penggunaan dynamic stability control (DSC) membuat 730 Li dapat melaju cepat di permukaan jalan yang basah dengan aman dan nyaman.

BMW 730 Li dapat disetel dengan tiga mode pengendaraan, yakni comfort (nyaman), normal, sport, dan sport II (pada mode ini, fungsi DSC dinonaktifkan sehingga mobil dapat melakukan manuver ekstrem).

Mesin 3.0 Liter, 6 silinder segaris, yang disandang 730 Li, menghasilkan tenaga maksimum 258 PK pada 6.600 rpm, dan torsi maksimum 310 Nm pada 2.600 rpm. Kecepatan 100 kilometer per jam dari posisi berhenti dapat dicapai dalam waktu 7,8 detik. Kecepatan maksimum yang dapat dicapai 730 Li adalah 245 kilometer per jam. Klaim pabrik menyebutkan, dengan 1 liter bensin, 730 Li dapat menempuh perjalanan sejauh 10,2 kilometer.

Lincah
Karakter BMW sebagai mobil terbaik yang dibuat dari sudut pandang pengendara juga melekat erat pada 730 Li. Itu menjadikan 730 Li bukan hanya mobil yang asyik bagi penumpang yang duduk di kursi belakang, melainkan juga asyik bagi pengendara.

Itu sebabnya, walaupun sosok 730 Li termasuk sedan papan atas fullsize yang berukuran panjang 5,212 meter, lebar 2,134 meter, dan tinggi 1,478 meter, tetapi mobil itu dapat dengan mudah digunakan untuk melintas di ruas jalan yang sempit. Bahkan, 730 Li tidak kalah lincah dibandingkan dengan mobil-mobil papan atas midsize.



Kehadiran 730 Li dimaksudkan untuk memperlebar rentang model BMW Serie 7 yang
dipasarkan di Indonesia. Sejak Februari lalu, PT BMW Indonesia telah memasarkan 750 Li dan 740 Li. Dengan kehadiran 730 Li, PT BMW Indonesia berharap dapat menjangkau kalangan yang lebih luas. Fitur yang disandang 730 Li memang tidak selengkap 750 Li dan 740 Li yang dipasarkan sejak Februari lalu. Itu membuat harga jual 730 Li hanya Rp 1, 759 miliar, jauh di bawah harga jual 750 Li yang mencapai Rp 2,658 miliar dan 740 Li yang mencapai Rp 2,127 miliar. (JL)

Artikel ini dimuat di harian Kompas, 20 November 2009, halaman 40

Label: