Kamis, 03 September 2009

Mobil Sport Papan Atas Berkecepatan Amat Tinggi

Mobil-mobil sport papan atas bertenaga besar harganya sangat tinggi. Bagi sebagian orang tertentu mobil itu dianggap layak atau harus dimiliki, tetapi bagi sebagian orang lagi, sebagian besar pastinya, memiliki mobil itu hanyalah merupakan mimpi atau angan- angan.

Bagi yang dapat membelinya, dan memang akhirnya membelinya, belum tentu dapat mengendarai mobil itu hingga ke batas akhir kemampuannya dengan aman. Memang perlu keahlian khusus untuk memacu mobil itu dengan kecepatan tinggi dan aman, baik itu bagi dirinya sendiri, penumpang lain di dalam mobil itu, maupun bagi kendaraan atau orang lain.



Memacu mobil itu di jalan raya (termasuk jalan tol) hingga mendekati batas akhir kecepatannya sulit untuk dilakukan. Kalaupun mau, seseorang harus bangun dini hari dan memacu mobil tersebut di Tol Jagorawi pada saat hampir tidak ada mobil lain yang melintas.
Tol Jagorawi adalah satu-satunya jalan tol di negara ini yang permukaan jalannya sangat mulus. Dengan demikian, secara relatif, jalan tol inilah yang paling aman digunakan untuk memacu kendaraan dengan kecepatan hingga di atas 200 kilometer per jam.

Tentunya dengan catatan, tidak ada kendaraan lain yang melintas di depan mobil tersebut. Namun, bangun dini hari, hanya untuk memacu kendaraan dengan kecepatan 200 kilometer per jam, tentunya tidak akan dilakukan sering-sering.

Sirkuit Sentul

Dalam kaitan itulah, gagasan M-Owners Club Indonesia, klub pemilik mobil BMW M (BMW Sportcar), untuk menyelenggarakan Performance Sportcar Venue di Sirkuit Sentul, Bogor, Jawa Barat, patut diacungi jempol.

Pada 29 Agustus lalu, M-Owners Club Indonesia memberikan kesempatan kepada pemilik mobil sport papan atas bertenaga besar untuk memacu mobilnya secara aman di Sirkuit Sentul.



Untuk itu, M-Owners Club Indonesia menyediakan pace car di depan untuk membantu para pemilik mobil sport papan atas bertenaga besar untuk memacu mobilnya secara aman di
Sirkuit Sentul. Bahkan, di sirkuit juga dipasangi cone (kerucut plastik) untuk menandai lintasan yang harus dilalui mobil pada tikungan-tikungan yang dianggap berbahaya.

Dengan demikian, pemilik mobil sport papan atas bertenaga besar dapat memacu mobil dengan aman hingga ke batas tertinggi. Kalaupun mobil sampai meluncur ke luar lintasan, dijamin bahwa mobil dan penumpangnya akan aman-aman saja.


Foto Jimmy Lukita siap
mengendarai Pace Car 2

Performance Sportcar Venue di Sirkuit Sentul dihadiri banyak pemilik mobil sport. Mulai dari pemilik BMW M-Series, BMW Z4, Ferrari, Porsche, Audi, Mercedes Benz AMG, Lamborghini Murcielago, Lotus, Maserati, Mitsubishi Evo, Nissan GTR, Honda Civic RR, dan Volkswagen GTI.



Namun, ikut berpartisipasi dalam acara memacu kendaraan di sirkuit hanya BMW M3, BMW M5, BMW M6, BMW 630 Cabriolet, Mercedes Benz C63 AMG, Porsche 911 dan Porsche GT2, Audi TT dan Audi R8, Maserati, Mitsubishi Evo, Nissan GTR, Lamborghini, Honda Civic RR, dan Ferrari, yang terbanyak F430, serta tentunya tiga pace car, New BMW M3, BMW 740, dan BMW 750. (JL)

Artikel ini dimuat di harian Kompas, 4 September 2009, halaman 41



Label:

Rabu, 17 September 2008

Menjajal Habis Lexus IS F

Tanggal 21 Agustus 2008. Jam menunjukkan pukul 14.15. Wartawan otomotif yang datang dari negara-negara Asia Tenggara berada di Pit Garage, Fuji Speedway, Jepang, tengah mengikuti briefing menjelang pelaksanaan test drive Lexus IS F, mobil sport berperforma tinggi keluaran Lexus.
Dalam briefing itu diberikan penjelasan tentang Fuji Speedway dan bagaimana memacu Lexus IS F di Fuji Speedway dengan aman. Misalnya, di bagian mana mobil boleh dipacu sampai maksimal, di bagian mana dan kapan mobil harus direm, atau pada ruas jalan yang lebar, lajur mana yang harus dilintasi, serta berapa kecepatan yang aman saat menikung tajam di beberapa bagian Fuji Speedway. Juga dijelaskan apa yang harus dilakukan apabila mobil mengalami oversteer atau understeer.


Tahap pertama, semua wartawan otomotif berkonvoi satu lap (putaran) di belakang pace car untuk melakukan pengenalan terhadap Fuji Speedway. Setelah itu, wartawan otomotif yang didampingi instruktur dipersilakan untuk memacu sesuai dengan keterampilannya. Kesempatan itu tentunya tidak disia-siakan.

Lexus IS F menyandang mesin berkapasitas 5.0 Liter, 8 silinder dalam konfigurasi V (V8), dan menghasilkan tenaga maksimum 416 PK pada 6.600 putaran mesin per menit (rpm) dengan garis merah pada 6.800 rpm. Torsi maksimum sebesar 505 Nm dicapai pada 5.200 rpm. Meskipun demikian, Lexus IS F sudah bertenaga besar pada putaran mesin rendah dan dengan cepat bertambah besar sesuai dengan meningkatnya kecepatan.

Itu membuat Lexus IS F sangat mudah dipacu. Mobil itu hanya memerlukan waktu 4,7 detik untuk mencapai kecepatan 100 kilometer per jam dari posisi berhenti. Begitu bendera diangkat, mobil langsung dipacu ke luar dari area Pit Garage. Tanpa susah payah kecepatan 120 kilometer per jam pun dicapai.

Dengan menggunakan persneling otomatik yang memiliki 8 tingkat kecepatan (khas Lexus), akselerasi berlangsung cepat dan mulus. Tanda untuk menurunkan kecepatan pun terlihat, pedal rem pun diinjak dalam-dalam hingga kecepatan turun sampai 80 kilometer per jam dan menikung tajam ke kanan. Begitu keluar tikungan pedal gas pun diinjak sampai ke lantai hingga dengan cepat jarum spidometer menunjukkan angka 140 kilometer per jam. Dan, bersamaan dengan injakan pedal gas sampai ke lantai itu, suara deruman mesin menyeruak ke dalam kabin sehingga memompa aliran adrenalin.



Persneling otomatik yang disandang Lexus IS F itu dilengkapi dengan teknologi tiptronic, yang memungkinkan pengendara menaikkan dan menurunkan gigi persneling secara manual sesuai dengan irama yang diinginkan. Pengendara tinggal menggeser tangkai persneling dari huruf D (drive) ke huruf M (manual) dan memajukan atau memundurkan tangkai persneling, atau melalui dua pedal kecil di setir.

Sangat mengasyikkan

Beberapa kali Lexus IS F sempat drifting sehingga membuat pengendaraan sangat mengasyikkan, seperti tengah mengikuti acara balapan sungguhan. Seperti layaknya mobil-mobil papan atas, Lexus IS F pun dilengkapi oleh vehicle stability control (VSC), yang tergabung dalam vehicle dynamics integrated management (VDIM) bersama dengan electronic power steering (EPS), traction control (TRAC), antilock braking system (ABS), electronic brake-force distribution (EBD), brake assist (BA), dan torsi mesin melalui electronically control throttle.

Namun, untuk menambah keasyikan berkendara, VSC yang pada mobil lain dikenal dengan nama electronic stability program (ESP), baru mengintervensi jika mobil benar-benar hilang kendali. Pengendara hanya perlu menahan setir dan mengikuti arah gerakan mobil yang dikoreksi oleh VSC.



Beberapa kali Lexus IS F sempat dikoreksi oleh VSC saat memasuki tikungan dengan kecepatan 160 kilometer per jam. Saat VSC bekerja di dalam kabin terdengar nada bip... bip... bip... bip..., dan mobil terasa ”ditarik” ke lajur yang seharusnya dilalui, dan itu menimbulkan keasyikan tersendiri.



Saat memasuki lintasan lurus yang melewati tribun, pedal gas langsung diinjak sampai ke lantai, suara deruman mesin menyeruak ke dalam kabin dan tak terasa jarum spidometer menunjukkan angka 240 kilometer per jam. Satu lap sudah diselesaikan. Namun, tak bisa lama, kecepatan harus kembali diturunkan sampai 80 kilometer per jam sebelum memasuki tikungan tajam kembali.

Setiap wartawan diberikan kesempatan untuk mencoba empat unit Lexus IS F dan menyelesaikan dua lap setiap mobil. Sebelum acara test drive berakhir, para wartawan merasakan memutar satu lap dengan Lexus IS F yang dikendarai oleh pembalap profesional yang menjadi instruktur pendamping.

Dengan pembalap profesional, Lexus IS F dipacu sampai ke batas. Tikungan demi tikungan dilahap dengan sangat cepat. Secara sengaja pembalap profesional berulang kali melakukan drifting di tikungan untuk menunjukkan kemampuan mobil sport itu. Lewat kesempatan inilah para wartawan dapat belajar bagaimana memacu mobil hingga ke batas dengan aman.(JL)

Artikel ini dimuat di Kompas, 16 September 2008, halaman 35

Label: