Kamis, 24 Januari 2008

Mobil Rakyat yang Tak Lagi Terjangkau Rakyat


Pada paruh kedua tahun 2000, mulai tampak Volkswagen (VW) Beetle
versi baru lalu lalang di ruas-ruas jalan Kota Jakarta. Kehadiran
VW Beetle versi baru itu sangat menarik perhatian, selain karena
kemiripannya dengan pendahulunya, juga warnanya yang funky (gaya
atau fashionable). Warna merah, biru, dan kuning adalah warna-warna
yang dominan dipilih pembeli.

VW Beetle versi baru, yang prototipenya pertama kali
diperkenalkan dengan nama Concept 1 (One) di Detroit Auto Show 1994,
masih mempertahankan ciri khas VW Beetle yang asli, yakni model dua
pintu, bodi cembung-cembung (rounded), dan lampu depan yang bulat.
Namun, di sana-sini tampak sentuhan futuristik, termasuk menyatunya
bonnet dengan bumper. Tahun 1996, nama Concept 1 diubah menjadi New
Beetle, dan tahun 1998 mulai diproduksi secara massal.


Hadirnya New Beetle mendapatkan sambutan yang baik, khususnya
dari para penggemar VW Beetle. Mengingat pabrik VW di Wolfsburg,
Jerman, telah menghentikan produksi Beetle pada tahun 1975.
Meskipun VW Beetle masih diproduksi di Brasil dan Meksiko,
tetapi sosok VW Beetle produk kedua negara itu terkesan agak kuno
bila dibandingkan dengan VW Beetle produk negara asalnya.

Tak ada mobil yang sepopuler VW Beetle. Berulang kali VW Beetle
memecahkan rekor dunia. Tanggal 17 Februari 1972, VW Beetle yang
ke-15.007.034 meninggalkan pabrik VW di Wolfsburg, dan itu sekaligus
memecahkan rekor yang dicapai Ford Model T yang dianggap sebagai
mobil terpopuler di dunia. Namun, pabrik mobil Ford kemudian
menyatakan bahwa ada kekeliruan dalam menghitung, angka produksi
bukan 15 juta, melainkan 16,5 juta unit. Akan tetapi, rekor itu pun
dipecahkan oleh VW Beetle. Tahun 1973, produksi VW Beetle melampaui
16,5 juta unit, dan secara resmi menjadi mobil yang terpopuler di
dunia (lebih populer dari mobil terpopuler Jepang, Toyota Corolla).
Kemudian, tahun 1992, VW Beetle kembali memecahkan rekor dunia
dengan memproduksi lebih dari 21 juta unit.

Dan, walaupun di negara asalnya sudah tidak diproduksi lagi sejak
25 tahun lalu, tetapi produknya masih lalu lalang di ruas-ruas jalan
berbagai kota di dunia.
***



VW Beetle (Kumbang), yang di Indonesia lebih dikenal dengan VW
Kodok, pertama kali memasuki pasar tahun 1946. Mobil itu mengusung
mesin empat silinder boxer, empat tak (four cycle/stroke),
berkapasitas 1.131 cc, dan berpendingin udara (aircooled) di bagian
belakangnya.

Volkswagen arti harfiahnya adalah mobil rakyat. Sebelum tahun
1930-an, di Jerman bermunculan gagasan untuk membuat mobil rakyat.
Tepatnya, sebuah mobil yang sederhana dan harganya terjangkau oleh
seorang pekerja biasa. Sebab, hampir semua kendaraan yang ada pada
saat itu, walaupun dibuat secara sangat sederhana, harganya di atas
upah rata-rata pekerja dalam setahun.

Pada tahun 1933, Adolf Hitler bertemu Ferdinand Porsche, seorang
perancang mobil asal Stuttgart, untuk membahas gagasannya tentang
sebuah mobil rakyat. Menurut Hitler, sebuah mobil rakyat itu harus
bisa mengangkut lima orang (dua dewasa di depan dan tiga anak di
belakang), kecepatannya mencapai 62 mil (99,2 kilometer) per jam,
menggunakan bahan bakar 33 mil per gallon (14 kilometer per liter),
dan berharga hanya 1.000 mark Jerman (86 poundsterling).

Hitler memberikan batas waktu 10 bulan kepada Porsche untuk
membuat mobil itu. Porsche mencoba berbagai jenis mesin, tetapi ia
tidak puas. Tak terasa, waktu 10 bulan terlampaui. Tahun 1935,
seorang insinyur Austria yang belum setahun bekerja di perusahaan
Porsche, muncul dengan gagasan mesin boxer (flat four). Dan, setelah
diuji coba selama dua hari, pilihan jatuh pada mesin itu, mesin empat
silinder boxer, empat tak, dan berpendingin udara.

Mesin itu lebih murah dan lebih dapat diandalkan daripada empat
silinder yang menggunakan sistem dua tak, sebelumnya diuji coba.
Mesin empat silinder, empat tak, tipe boxer, dan berpendingin udara
itu kemudian yang dipasangkan pada bagian belakang VW Beetle.

Namun, mesin VW Beetle berpendingin udara itu suaranya berisik,
dan cenderung overheating (menjadi terlalu panas) bila digunakan di
negara tropis yang suhu udaranya panas. Pada beberapa jenis VW Beetle
untuk menjaga agar suhu mesin tidak menjadi terlalu panas, digunakan
alat pendingin oli.

Meskipun demikian, bentuknya yang khas dan gaya, serta kinerja
mesinnya oke, maka penggemar VW Beetle itu sampai kini cukup banyak.
***

TAMPAKNYA bagi VW era mesin boxer dan mesin di belakang sudah
berakhir. Karena, New Beetle, atau VW Beetle versi baru, muncul
dengan karakter yang sama sekali baru.

Mesin yang disandang adalah mesin empat silinder, berkapasitas
2.000 cc, in line (vertikal), dan berpendingin air, serta diletakkan
di depan. Mesin itu menghabiskan satu liter bensin untuk 9,81
kilometer pada pemakaian di dalam kota, dan satu liter bensin untuk
12,37 kilometer pada pemakaian luar kota (kecepatan konstan).

Selain itu, New Beetle juga turun dengan mesin diesel dan
berkapasitas 1.900 cc, empat silinder, in line. Mobil bermesin
diesel itu menghabiskan satu liter solar untuk 17,49 kilometer
pada pemakaian di dalam kota, dan 20,48 kilometer per liter untuk
pemakaian luar kota.

Dan, dengan mematok harga Rp 415 juta per unit, maka bisa
dikatakan bahwa New Beetle juga telah meninggalkan habitatnya
sebagai mobil rakyat. Sebab, mobil itu tak lagi terjangkau oleh
rakyat.

Sebagai mobil yang turun dengan spesifikasi mobil untuk
penggunaan di dalam kota (city car), kinerja (performance) mesin
New Beetle di tanjakan tidaklah seheboh pendahulunya, yang dikenal
sebagai raja tanjakan. Namun, yang tidak bisa dibantah adalah bahwa
New Beetle lebih nyaman dikendarai dibandingkan dengan pendahulunya.
Selain itu, suara mesinnya juga jauh lebih sepi. Overheating sudah
lupa tuh! (JL)

Artikel ini dimuat
di harian Kompas, 23 Januari 2001, halaman 29

Label:

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda