Jumat, 11 April 2008

Mitsubishi Perkokoh Kehadirannya



PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors, Agen Tunggal Pemegang Merek Mitsubishi di Indonesia, 4 April 2008, di Plaza Senayan, Jakarta, mencanangkan tekadnya untuk memperkokoh kehadirannya di negeri ini. Sebagai langkah awal, PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors meluncurkan Mitsubishi Grandis dress up yang interiornya digarap khusus sehingga menjadi lebih mewah.





Perpaduan dashboard berwarna hitam dengan krem (beige), serta kursi yang dibalut kulit lembut berwarna krem, dan nuansa kayu pada panel tangkai persneling serta panel elektris di bagian dalam pintu, mempertegas kesan kemewahan. Bukan hanya itu, fungsi rem tangan pun dipindahkan ke kaki (foot type parking brake).



Mitsubishi Grandis dress up yang tetap mengandalkan mesin 2.4 Liter, 4 silinder segaris, MIVEC (Mitsubishi Innovative Valve Timing and Lift Electronic Control) itu dijual dengan harga off the road (sebelum pajak) Rp 280 juta. Dan, muncul dalam empat pilihan warna, yakni Pyreness black, cool silver metallic, Eisen grey mica, dan platinum beige.




Peluncuran Mitsubishi Grandis dress up itu yang masuk kategori multi-purpose vehicle (MPV) medium itu disebut Presiden Direktur PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors Fumiko Kuwayama sebagai momen kebangkitan kembali mobil penumpang (passenger car) Mitsubishi. Karena, dalam waktu tidak terlalu lama, peluncuran Mitsubishi Grandis dress up itu akan diikuti dengan peluncuran mobil-mobil baru keluaran Mitsubishi. Sampai penyelenggaraan Indonesian Internasional Motor Show 2008 di Jakarta, bulan Juli mendatang, PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors meluncurkan setidaknya lima model Mitsubishi baru.

Peluncuran mobil-mobil baru Mitsubishi itu, kata Kuwayama, sebagai langkah penting dalam rangka memperkuat citra merek Mitsubishi di Indonesia.

Pada tahun 2008 ini, Mitsubishi akan muncul dengan kekuatan penuh, dan siap bertarung dengan pesaing-pesaingnya, seperti Toyota, Honda, Nissan, Suzuki, dan Mazda. Dengan kata lain, pada tahun 2008 ini, kehadiran Mitsubishi di Indonesia tidak lagi hanya bertumpu pada mobil komersial (termasuk truk dan bus), melainkan juga pada mobil penumpang.

Mobil mahal

Reputasi mobil-mobil Mitsubishi tidak usah diragukan lagi. Ajang reli kejuaraan dunia, WRC, dan reli terganas di dunia, Dakar, menjadi saksi keandalan dan ketangguhan mobil-mobil Mitsubishi, seperti Mitsubishi Evolution dan Mitsubishi Pajero-Montero. Namun, di Indonesia, walaupun secara umum orang mengetahui keandalan dan ketangguhan mobil-mobil Mitsubishi, tetapi penjualan mobil penumpang Mitsubishi secara kuantitas tertinggal dari pesaing-pesaingnya.
Untuk mobil penumpang, di luar Mitsubishi Grandis, juga hadir Mitsubishi Lancer dan Mitsubishi Galant. Selain itu juga masih ada Mitsubishi Maven yang sosoknya sama dengan Suzuki APV.



Di samping itu, ada pula Mitsubishi L-200 Strada yang terlaris di kelasnya. Mitsubishi L-200 Strada berada di wilayah abu-abu, mengingat mobil bak terbuka itu dapat dikategorikan sebagai mobil komersial dan sekaligus juga sebagai mobil penumpang. Khususnya, yang berkabin ganda (double cabin).

Ternyata, citra atau kesan bahwa perawatan mobil-mobil Mitsubishi lebih mahal ketimbang mobil-mobil buatan pesaingnya, yang menjadi salah satu penyebabnya. Padahal, kenyataannya tidaklah 100 persen seperti itu. Fumiko Kuwayama membenarkan adanya citra tersebut. Ia menambahkan, “Kami akan berupaya untuk menghapus citra tersebut, mengingat dalam kenyataannya tidak seperti itu. Namun, kami akan menggunakan cara baru dalam layanan purna jual, termasuk dengan mendirikan pusat teknik (technic center), dan tidak seperti yang digunakan oleh pesaing-pesaing kami.”

Ia menegaskan, masuknya model-model baru Mitsubishi, tidak menjadikan PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors meninggalkan pemilik Mitsubishi Kuda. Walaupun produksi Mitsubishi Kuda sudah dihentikan, tetapi PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors tetap akan menjaga kepentingan perawatan mobil tersebut, berikut ketersediaan suku cadangnya.

Penghentian produksi Mitsubishi Kuda terpaksa dilakukan karena mesin yang disandangnya sudah ketinggalan zaman, dan sudah tidak lagi memenuhi ketentuan ramah lingkungan yang dipersyarakatkan Euro 2.(JL)

Artikel ini dimuat di harian Kompas, 18 April 2008, halaman 48

Label:

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda