S500 L, Sukses dan Gaya Hidup
Minggu, 20 Desember 2009
Kesuksesan dan pencapaian dalam hidup dapat diekspresikan dengan
berbagai hal. Salah satunya adalah dengan memiliki Mercedes Benz S500 L.
Tidak dapat dimungkiri bahwa Mercedes Benz S-Class dapat dijadikan
simbol status bagi pemiliknya, simbol dari kesuksesan atau pencapaian
dalam hidupnya. Atau, jika dinyatakan dalam kalimat pendek, you are
what you drive..
Duduk di dalam Mercedes Benz S500 L memang berbeda. Mobil yang
yang tergabung dalam flagship (model teratas) Mercedes Benz itu sarat
dengan teknologi inovatif, khususnya yang berkaitan dengan keamanan
dan kenyamanan. Bukan itu saja, New S-Class juga menetapkan standar
baru dalam keasyikan dan kelincahan berkendara.
Dan, dengan memiliki New S-Class, secara otomatis gaya hidup
seseorang pun akan berbeda. Ia akan memasuki kehidupan kalangan jetset
dengan berbagai atributnya. Bukan hanya itu, istilah the sky is the
limit tentunya tidak berlaku bagi kalangan itu.
Kemacetan lalu lintas, siapa takut..
Mercedes Benz S500 L dapat dikategorikan sebagai mobil pengendara
dan penumpang sekaligus. Dengan kata lain, S500 L asyik bagi
pengendaranya dan juga asyik bagi penumpangnya. Hal itu termasuk
jarang bagi mobil papan atas fullsize yang pada umumnya lebih
berorientasi kepada penumpang, khususnya penumpang kursi belakang.
Dengan menyandang mesin berkapasitas 5.461 cc, 8 silinder dalam
konfigurasi V (V8), S500 L terasa sangat bertenaga. Injakan ringan
pada pedal gas (akselerator) S500 L membuat mobil melesat cepat.
Kecepatan 100 kilometer per jam dari posisi berhenti dapat dicapai
dalam waktu 5,4 detik. Cukup cepat untuk sebuah mobil penumpang papan
atas fullsize.
Tenaga maksimum yang dihasilkan mesin yang disandang S500 L itu
388 PK pada 6.000rpm dan torsi maksimum 530 Nm pada 2.800-4.800 rpm.
Namun, karena tenaga dan torsi yang besar itu disalurkan ke roda
belakang (rear wheel drive) melalui persneling otomatik, dengan 7
tingkat kecepatan yang dilengkapi tiptronic (7G-Tronic), maka
pertambahan kecepatan berlangsung dengan halus. Kecepatan maksimum
dibatasi secara elektronik pada kecepatan 210 kilometer per jam.
Namun, jika ingin menikmati performa mesin S500 L hingga ke batas,
pengendara tinggal melakukan kickdown hingga 4.800 rpm dan memastikan
setiap pergantian gigi persneling berlangsung antara 2.800 rpm dan
4.800 rpm. Jika kurang puas, pengendara dapat mengoperasikan
tiptronic, dengan menaikkan dan menurunkan gigi persneling secara
manual.
Tak berlebihan
Klaim pabrik bahwa New S-Class telah menetapkan standar baru dalam
keasyikan dan kelincahan berkendara memang tidak berlebihan. Untuk
sebuah sedan papan atas fullsize, kelincahan S500 L sangat menonjol.
Saat mengemudikan S500 L di ruas jalan tol dalam kota dari kawasan
Semanggi sampai ke luar di kawasan Cawang yang cukup padat, mobil itu
cukup lincah sehingga mudah melakukan manuver di antara mobil-mobil
yang melintas lambat di ruas tol tersebut.
Sebagai mobil yang kapasitas mesinnya 5.4 Liter, konsumsi bensin
S500 L lumayan hemat, termasuk apabila dibandingkan dengan mobil yang
kapasitas mesinnya 2.0 Liter. Dengan 1 liter bensin, S500 L dapat
menempuh perjalanan sejauh 8,9 kilometer. Walaupun mungkin hal itu
tidak dianggap hal yang besar bagi pemiliknya. Sebab, jika seseorang
sudah berani mengeluarkan uang sekitar Rp 2,6 miliar untuk membeli
S500 L, kenapa harus pusing dengan konsumsi bensinnya?
Dan, soal emisi, tak perlu khawatir, S500 L aslinya dibuat untuk
memenuhi standar Euro 5. Namun, khusus untuk S500 Lyang dipasarkan di
Indonesia, telah dilakukan penyesuaian sehingga dapat menggunakan
bahan bakar di dalam negeri yang kualitasnya masih rendah dengan aman.
(JL)
Artikel ini dimuat di harian Kompas, 11 Desember 2009, halaman 36
Posted by JL Blog 08:51 0 komentar
Label: Gaya hidup
Suzuki Raih Posisi Pertama dari JD Power
Selasa, 08 Desember 2009
Pekan lalu, dalam siaran pers yang dikeluarkan JD Power Asia Pacific, disebutkan Suzuki dan Toyota meraih peringkat tertinggi dalam kualitas mobil baru dari JD Power Asia Pacific. Kedua merek itu mendominasi empat segmen mobil yang diteliti JD Power Asia Pacific untuk 2009 Indonesia Initial Quality Study berdasarkan respons dari 2.034 pemilik kendaraan baru.
”Kualitas mobil baru yang baik membantu pabrikan meraih kepercayaan pelanggan. Produk mereka semakin diterima di pasar. Juga akan memelihara kesetiaan pelanggan terhadap suatu merek dan mendatangkan pembeli baru dealer melalui rekomendasi positif,” papar Rajeev Nair, Senior Manager JD Power Asia Pacific, Singapura.
Reaksi pertama atas siaran pers itu adalah Suzuki? Apa tidak salah? Reaksi seperti itu wajar- wajar saja. Sebab, biasanya merek yang muncul adalah kalau bukan Honda, ya Toyota. Bahkan, bisa dikatakan bahwa Honda dan Toyota adalah dua merek langganan pemenang JD Power. Itu sebabnya, ketika pekan lalu merek yang muncul adalah Suzuki dan Toyota, banyak orang yang sulit memercayainya.
Ternyata kemenangan itu bukanlah suatu keberuntungan belaka, melainkan merupakan buah dari perbaikan-perbaikan yang dilakukan oleh Direktur Pemasaran PT Suzuki Indomobil Sales Endro Nugroho.
Menurut Endro Nugroho, menyediakan mobil baru yang berkualitas memang penting, tetapi itu saja belumlah cukup. Pelayanan (service) juga penting, termasuk penyambutan terhadap pembeli yang datang ke dealer dan layanan purnajual (after sales service), termasuk penyediaan suku cadang.
Menjual mobil berbeda dengan menjual telepon genggam (handphone). Orang yang membeli telepon genggam tidak akan datang kembali ke toko kecuali telepon genggam yang dibelinya mengalami gangguan atau rusak. Sedangkan orang yang membeli mobil akan berulang kali kembali ke dealer untuk melakukan perawatan berkala. Bisa dikatakan, dalam penjualan mobil, hubungan antara dealer dan pembeli sangat dekat.
Benahi dealer
Itu sebabnya, Endro Nugroho berupaya membenahi dealer-dealer Suzuki agar mereka menyadari sepenuhnya peran dealer dalam membina hubungan dengan pembeli dan calon pembeli.
Ini mengingat dalam menjual mobil, hubungan yang baik antara dealer dan pembeli harus dijalin sejak pembeli pertama datang, yakni dengan memberikan sambutan yang ramah dan simpatik. Lalu, memberikan produk yang berkualitas, kemudian melayani dengan baik saat pembeli datang kembali untuk melakukan perawatan berkala atau memperbaiki kerusakan serta menyediakan mekanik yang terampil dan suku cadang yang diperlukan.
Jika semua itu dilakukan dengan baik, dapat dipastikan dealer akan mendapatkan pembeli- pembeli yang loyal. Dalam bisnis jual beli mobil, keuntungan tidak hanya didapat saat mobil dijual. Keuntungan juga diperoleh saat pembeli membawa kembali mobilnya untuk melakukan perawatan berkala atau memperbaiki kerusakan yang terjadi pada mobil yang dibelinya. Bahkan, keuntungan yang didapat lebih besar daripada saat mobil dijual. (JL)
Artikel ini dimuat di harian Kompas, 4 Desember 2009, halaman 37
Posted by JL Blog 05:17 0 komentar
Label: Penghargaan
Q5, Mobil Lintas Alam Papan Atas
Jika Anda memiliki jiwa petualang atau gemar melakukan petualangan dan berpenghasilan lumayan tinggi, Q5, sport utility vehicle compact dari Audi, bisa menjadi salah satu pilihan.
Mobil yang diluncurkan pada 16 Juli lalu di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, itu menyandang mesin berkapasitas 2.0 Liter (1.984 cc), 4 silinder segaris, menggunakan injektor bahan bakar langsung (FSI), diperkuat turbocharger, dan dilengkapi penggerak empat roda (quattro).
Perjalanan dengan Q5 tidak berhenti pada saat jalan aspal berakhir. Mobil lintas alam (cross country) yang menggunakan persneling otomatik dengan 7 tingkat kecepatan yang dilengkapi dengan teknologi S-Tronic itu didesain untuk menjelajahi dua medan, onroad dan offroad.
Yang perlu dilakukan pengendara hanyalah menginjak pedal rem, memindahkan tuas persneling dari huruf P (parking) ke huruf D (drive), melepaskan injakan kaki kiri dari pedal rem, memindahkannya ke pedal gas, dan melakukan kickdown (menginjak pedal gas dalam-dalam). Mobil akan melesat cepat dengan mantap.
Sebagai sport utility vehicle (SUV), Q5 memang cukup tangguh. Dalam keadaan normal, pembagian torsi untuk roda depan dan belakang 40 : 60. Jika diperlukan, torsi ke roda depan dapat ditingkatkan hingga 65 persen, sedangkan untuk roda belakang torsi dapat ditingkatkan sampai 85 persen. Q5 yang memiliki ketinggian dari permukaan tanah (ground clearance) 20 sentimeter itu dapat dengan mudah melintas di genangan air sedalam 50 sentimeter.
Selintas, Q5 yang dijual dengan harga Rp 930 juta itu tampak serupa dengan Volkswagen Tiguan. Namun, jika diamati dengan saksama, Q5 20 sentimeter lebih panjang daripada Tiguan dan interiornya sama sekali berbeda. Dan, tidak seperti Tiguan yang menempatkan mesinnya melintang (transverse), Q5 menempatkan mesinnya memanjang (longitudinal).
Pekan lalu Kompas mengemudikan Q5 menuju ranch kuda tunggangan Arthayasa di kawasan Meruyung, Cinere, Depok, Jawa Barat. Perjalanan menuju Meruyung itu tak terasa jauh
dan menyulitkan. Kesenyapan di dalam kabin membuat perjalanan yang cukup jauh itu terasa santai.
Bahkan, perbaikan jalan yang tengah dilakukan di sana-sini tidak membuat perjalanan dengan Q5 terganggu. Permukaan jalan yang berlubang pun ditaklukkan dengan mudah.
Cukup cepat
Memang dibandingkan dengan Q5 3.0 TDI yang bermesin diesel, yang pernah dikendarai Kompas akhir November 2008, torsi Q5 2.0 TFSI lebih kecil. Q5 3.0 TDI menghasilkan torsi maksimum sebesar 500 Nm pada 1.500-3.000 rpm, sedangkan Q5 2.0 TFSI menghasilkan torsi maksimum 350 Nm pada 1.500-4.200 rpm.
Namun, dengan tenaga maksimum 211 PK yang dihasilkan pada 6.000 rpm, Q5 2.0 TFSI melesat dengan cepat dari 0-100 kilometer per jam. Kecepatan 100 kilometer per jam dapat dicapai hanya dalam 7,2 detik dari posisi berhenti, cukup cepat untuk sebuah SUV.
Penggunaan persneling otomatik dengan 7 tingkat kecepatan membuat pertambahan kecepatan itu berlangsung halus tanpa sentakan. Jika diinginkan, pengendara dapat melakukan pergantian gigi persneling secara manual tanpa kehadiran pedal kopling. Klaim pabrik menyebutkan, kecepatan maksimum Q5 2.0 TFSI mencapai 219 kilometer per jam.
Dengan panjang 4,630 meter, lebar 1,880 meter, dan tinggi 1,650 meter, Q5 termasuk kategori SUV compact. Dan, dengan dimensi seperti itu, Q5 asyik digunakan di pinggiran Jakarta yang ruas jalannya tidak terlalu lebar. Tak terasa, Q5 telah memasuki ranch Arthayasa yang luas dan asri. (JL)
Artikel ini dimuat di harian Kompas, 4 Desember 2009, halaman 37
Posted by JL Blog 05:06 0 komentar
Label: Mobil Baru
730 Li, Varian Serie 7 Baru dari BMW
Sabtu, 21 November 2009
Pedal gas diinjak dalam-dalam dan BMW 730 Li melesat cepat di Jalan Tol Jagorawi, pekan lalu. Sore itu Jalan Tol Jagorawi agak lengang hingga perjalanan menuju Jakarta berlangsung singkat. Memang di beberapa ruas jalan laju mobil sempat tertahan sejenak karena ada beberapa mobil yang melaju lambat di lajur paling kanan, tetapi selebihnya perjalanan bisa dikatakan sangat lancar.
Hujan lebat yang turun sejak berangkat dari Cimory, Bogor, membuat mobil-mobil meluncur lambat. Baik itu di ruas jalan pegunungan di kawasan Mega Mendung, Bogor, maupun di ruas Jalan Tol Jagorawi. Dengan demikian, 730 Li dapat dengan mudah dipacu mendahului mobil-mobil tersebut.
Dengan menggunakan rain sensor yang ditempatkan di kaca depan, di balik kaca spion dalam, kecepatan wiper disesuaikan dengan banyaknya tetesan air yang menerpa kaca depan sehingga pandangan pengendara ke depan sangat jelas.
Pada hari itu hujan deras turun merata hingga ke Jakarta. Bahkan, saat mobil melintas di ruas jalan Pondok Indah, genangan air di permukaan jalan cukup tinggi. Namun, 730 Li tidak mengalami kesulitan untuk melintasi ruas jalan itu.

Cukup bertenaga
Memang tenaga dan torsi yang dihasilkan mesin 3.0 Liter (2.996 cc) yang disandang BMW 730 Li tidaklah sedahsyat tenaga yang dihasilkan mesin 4.4 Liter (4.395 cc) yang diperkuat dua turbocharger yang disandang BMW 750 Li.
Namun, mesin 3.0 Liter, 6 silinder segaris itu cukup bertenaga sebagai penggerak sedan papan atas fullsize. Dan, karena mesin yang disandang 730 Li itu naturally aspirated, atau tidak diperkuat turbocharger, maka penyaluran tenaga dan torsi dari mesin ke roda belakang melalui persneling otomatik dengan 6 tingkat kecepatan berlangsung stabil pada setiap putaran mesin. Dan, penggunaan teknologi steptronic membuat pengendara dalam melakukan pergantian gigi persneling secara manual tanpa kehadiran kopling.
Injakan kaki ringan pada pedal gas 730 Li langsung membuat mobil melesat cepat. Dan, penggunaan dynamic stability control (DSC) membuat 730 Li dapat melaju cepat di permukaan jalan yang basah dengan aman dan nyaman.
BMW 730 Li dapat disetel dengan tiga mode pengendaraan, yakni comfort (nyaman), normal, sport, dan sport II (pada mode ini, fungsi DSC dinonaktifkan sehingga mobil dapat melakukan manuver ekstrem).
Mesin 3.0 Liter, 6 silinder segaris, yang disandang 730 Li, menghasilkan tenaga maksimum 258 PK pada 6.600 rpm, dan torsi maksimum 310 Nm pada 2.600 rpm. Kecepatan 100 kilometer per jam dari posisi berhenti dapat dicapai dalam waktu 7,8 detik. Kecepatan maksimum yang dapat dicapai 730 Li adalah 245 kilometer per jam. Klaim pabrik menyebutkan, dengan 1 liter bensin, 730 Li dapat menempuh perjalanan sejauh 10,2 kilometer.
Lincah
Karakter BMW sebagai mobil terbaik yang dibuat dari sudut pandang pengendara juga melekat erat pada 730 Li. Itu menjadikan 730 Li bukan hanya mobil yang asyik bagi penumpang yang duduk di kursi belakang, melainkan juga asyik bagi pengendara.
Itu sebabnya, walaupun sosok 730 Li termasuk sedan papan atas fullsize yang berukuran panjang 5,212 meter, lebar 2,134 meter, dan tinggi 1,478 meter, tetapi mobil itu dapat dengan mudah digunakan untuk melintas di ruas jalan yang sempit. Bahkan, 730 Li tidak kalah lincah dibandingkan dengan mobil-mobil papan atas midsize.
Kehadiran 730 Li dimaksudkan untuk memperlebar rentang model BMW Serie 7 yang
dipasarkan di Indonesia. Sejak Februari lalu, PT BMW Indonesia telah memasarkan 750 Li dan 740 Li. Dengan kehadiran 730 Li, PT BMW Indonesia berharap dapat menjangkau kalangan yang lebih luas. Fitur yang disandang 730 Li memang tidak selengkap 750 Li dan 740 Li yang dipasarkan sejak Februari lalu. Itu membuat harga jual 730 Li hanya Rp 1, 759 miliar, jauh di bawah harga jual 750 Li yang mencapai Rp 2,658 miliar dan 740 Li yang mencapai Rp 2,127 miliar. (JL)
Artikel ini dimuat di harian Kompas, 20 November 2009, halaman 40
Posted by JL Blog 07:50 0 komentar
Label: Test Drive
Mobil Hibrida "Plug-in" Alternatif Utama
Selasa, 03 November 2009
Sampai saat ini, Toyota Motor Corporation menilai, mobil hibrida plug-in merupakan mobil alternatif utama bagi mobil yang menggunakan mesin pembakaran dalam yang menggunakan bensin sebagai bahan bakar. Mobil hibrida plug-in tidak memerlukan infrastruktur tambahan. Dengan demikian, begitu keluar dari pabrik, mobil itu langsung dapat
digunakan. Berbeda dengan mobil listrik dan mobil fuel cell yang memerlukan pembangunan infrastruktur tambahan.
Demikian pendapat Masato Kawai, Project Manager R&D Management
Division Toyota Motor Corporation, dalam perbincangan dengan wartawan
Indonesia di Tokyo, Jepang, Selasa (20/10) malam.
Ia menegaskan, mobil listrik, sampai saat ini, jarak jelajahnya
sangat terbatas dan waktu pengisian kembali tenaga listriknya sangat
lama (6-7 jam) sehingga dianggap kurang praktis untuk menggantikan
mobil yang menggunakan mesin pembakaran dalam, yang jarak jelajahnya
bisa dikatakan tidak terbatas. Selain itu, performa mobil listrik
jugabelum dapat menandingi mobil bermesin pembakaran dalam.
Sementara mobil fuel cell dari segi kepraktisan tidak kalah
daripada mobil bermesin pembakaran dalam karena jarak jelajahnya juga
tak terhingga. Namun, untuk mengoperasikan mobil fuel cell diperlukan
hidrogen dan juga perlu dibangun stasiun pengisian hidrogen di tempat
yang strategis. Dan, itu tentunya memerlukan investasi yang tidak
sedikit.
Yang paling praktis, paling tidak untuk saat ini, adalah mobil
hibrida plug-in. Pada mobil hibrida plug-in, yang berfungsi sebagai
penggerak adalah motor listrik yang memperoleh tenaga listrik dari
baterai, sedangkan mesin pembakaran dalam yang menggunakan bensin
hanya berfungsi sebagai generator untuk mengisi tenaga listrik di
baterai jika persediaan menipis.
Pada saat mobil diparkir dirumah atau di kantor untuk waktu yang
lama, pengisian baterai bisa dilakukan dengan mencolokkan steker ke
stop kontak.
Jika pengisian baterai belum mencukupi dan mobil sudah harus
digunakan, fungsi pengisian tenaga listrik akan diambil alih oleh
mesin pembakaran dalam. Sama seperti mobil konvensional, jarak jelajah
mobil hibrida plug-in tidak terbatas. Mengingat mobil hibrida plug-in
memiliki sumber listriknya sendiri, yang pengisian bahan bakarnya
dapat dilakukan di SPBU yang sudah ada. Demikian juga stop kontak di
rumah atau di kantor.
Karena mesin pembakaran dalam pada hibrida plug-in hanya digunakan
sebagai generator, kapasitasnya tidak besar sehingga hemat dalam
mengonsumsi bahan bakar dan emisinya ramah lingkungan.
Persoalannya adalah mobil hibrida plug-in perlu bahan bakar lain
jika cadangan minyak mentah di perut bumi sudah habis. Mungkin bio-
fuel bisa merupakan alternatif bahan bakar.(JL)
Artikel ini dimuat di harian Kompas, 23 Oktober 2009, halaman 36
Posted by JL Blog 08:11 0 komentar
Label: mobil hibrida
Toyota Kembali Memproduksi Mobil Sport
Banyaknya jumlah perusahaan pembuat mobil yang absen dari ajang pameran keempat terbesar di dunia tidak membuat perusahaan pembuat mobil asal Jepang, Toyota, berkecil hati. Bahkan, dalam Tokyo Motor Show 2009 yang berlangsung 23 Oktober-4 November, Toyota memperkenalkan dua model mobil sport terbarunya, yakni Toyota FT-86 Concept dan Lexus LFA.
Krisis ekonomi global yang diawali krisis keuangan di Amerika
Serikat membuat banyak perusahaan mobil terkena dampaknya. Tidak heran
di luar perusahaan pembuat mobil Jepang (Toyota, Nissan, Honda,
Mitsubishi, Mazda, Suzuki, Subaru, dan Daihatsu), hanya hadir Lotus
(Inggris) dan Alpina, rumah modifikasi BMW.
Pada press day hari pertama, Rabu (21/10), di Makuhari Messe,
Chiba, bagian timur Tokyo, Jepang, Presiden Toyota Motor Corporation
Akio Toyoda dalam pidatonya mengatakan, FT-86 Concept adalah mobil
sport konsep compact keluaran Toyota Motor Corporation (TMC) yang
menggunakan penggerak ban belakang. TMC telah meluncurkan banyak mobil
sport pada masa lalu, termasuk Levin dan Trueno model 86 atau hachi
roku, seperti Supra, Altezza, dan MR-S.
"Kenyataan bahwa tidak satu pun dari model-model itu yang masih
diproduksi pada saat ini membuat saya, sebagai penggila mobil sejati,
benar-benar sedih," ujarnya.
Ia menambahkan, "Sering dikatakan, kaum muda telah menjauhkan
perhatian mereka dari mobil, tetapi saya merasa, mungkin bukan mereka
yang meninggalkan mobil, tetapi kamilah sebagai perusahaan pembuat
mobil yang meninggalkan mereka. Itu sebabnya, saya percaya bahwa misi
perusahaan pembuat mobil adalah menyediakan mobil yang asyik
dikendarai bagi konsumen. Dan, FT-86 memiliki itu."
FT-86 Concept mengembangkan keasyikan intrinsik yang disediakan
oleh sebuah mobil, seperti pedal gas (akselerator) dan setir yang
secara presisi mengendalikan mobil seperti yang diinginkan pengendara,
serta keinginan lebih untuk berkendara. Semua itu akan disediakan bagi
konsumen secepatnya.
FT-86 Concept merupakan kerja bareng Toyota dengan Subaru. Itu
sebabnya, tidak heran jika FT-86 menyandang mesin berkapasitas 2.0
Liter, 4 silinder dalam konfigurasi horizontal berlawanan (mendatar),
yang populer dengan sebutan boxer.
Kedua adalah Lexus LFA, mobil super yang keasyikan pengendaraannya
disempurnakan di sirkuit Nurburgring, Jerman, termasuk suara deruman
mesin yang didengar telinga pengendara dan menggabungkan berbagai
kualitas tinggi yang sesuai dengan karakter Lexus.
"LFA akan mulai dipasarkan pada akhir tahun 2010, dan kamiakan
membatasi produksinya di dunia pada 500 unit saja. Untuk memiliki
mobil yang menyatu dengan orang dan masyarakat selama lebih dari 100
tahun mendatang, TMC akan melanjutkan membuat mobil yang secara
optimal menyatukan mimpi dan keinginan orang banyak, serta apa yang
diinginkan orang banyak," ujar Toyoda, cucu pendiri Toyota Motor
Corporation, Kiichiro Toyoda.
Ia mengatakan, "Saya secara pribadi terlibat dalam pengembangan
cita rasa LFA dari awal. Saya percaya bahwa Lexus memberikan cita rasa
tertinggi yang dicari oleh orang-orang yang akrab dengan hal-hal yang
sejati. Sekali mereka merasakan cita rasa itu, cita rasa itu akan
tetap melekat seumur hidup mereka."
LFA menyandang mesin berkapasitas 4.8 Liter, 10 silinder dalam
konfigurasi V (V10). Mesin itu menghasilkan tenaga maksimum 552 PK dan
torsi maksimum 480 Nm, dengan batas garis merah putaran mesin pada
9.000 putaran mesin per menit (rpm). Sanggup berakselerasi dari 0-100
kilometer per jam dalam 4,9 detik dan kecepatan maksimumnya 323
kilometer per jam.
Sebelum tirai penutup disingkirkan, Toyoda menghidupkan mesin LFA
dan menginjak pedal gas hingga rata dengan lantai. Bunyi deruman mesin
mobil yang membahana sanggup memompa adrenalin hingga ke batas.
Mobil hibrida
Dalam pidatonya, Akio Toyoda juga menyinggung tentang mobil
hibrida, yang hemat dalam mengonsumsi bahan bakar dan ramah terhadap
lingkungan, yang merupakan komitmen utama Toyota.
Toyota tercatat sebagai perusahaan pembuat mobil pertama di dunia
yang memproduksi mobil hibrida secara massal. "Dua belas tahun telah
lewat setelah Toyota Prius generasi pertama diluncurkan pada tahun
1997. Tahun ini kami meluncurkan Prius generasi ketiga, juga RX dan HS
hibrida dari Lexus. Bahkan, kemarin kami membuka selubung Sai, mobil
hibrida mewah dari Toyota. Dalam kesempatan ini, saya ingin berterima
kasih kepada lebih dari 2 juta orang yangmembeli mobil-mobil hibrida
keluaran Toyota, khususnya Prius," katanya.
Mobil hibrida adalah mobil yang menggabungkan mesin pembakaran
dalam yang menggunakan bahan bakar bensin atau solar (diesel) dengan
motor listrik yang mendapatkan tenaga dari baterai.
Menurut Toyoda, berbicara mengenai eco-driving (berkendara secara
hemat bahan bakar), banyak yang berpendapat bahwa mobil hibrida dan
mobil listrik benar-benar berbeda, padahal hal itu tidak benar. Mobil-
mobil hibrida keluaran TMC, terutama Prius, mampu beroperasi sebagai
mobil listrik dalam arti sesungguhnya. Dalam arti, motor listrik
beroperasi sendirian tanpa bantuan mesin bensin. "Dengan demikian,
tidak berlebihan jika Prius sudah merupakan separuh kendaraan
listrik," katanya.
Akio Toyoda juga menyebutkan akan memperkenalkan Prius Plug-in
Hybrid Concept, mobil listrik compact FT-EV II jarak dekat, dan mobil
fuel cell FCHV yang hanya menyisakan air.(JL)
Artikel ini dimuat di harian Kompas, 23 Oktober 2009, halaman 36
Posted by JL Blog 07:54 0 komentar
Label: Pameran Mobil
Mengurai Kemacetan bagai Menegakkan Benang Basah
Kamis, 15 Oktober 2009
Jakarta identik dengan kemacetan lalu lintas. Jika lalu lintas tidak macet, itu bukan Jakarta namanya. Menghabiskan waktu satu dua jam untuk berangkat ke tempat kerja dan pulang ke rumah itu adalah tantangan yang sehari-hari dihadapi oleh warga Jakarta.
Keinginan untuk mengurai kemacetan itu bukan tidak ada, tetapi tidak ada yang tahu dari mana harus memulainya. Persoalannya, macet di Jakarta itu bukan hanya karena pertambahan jumlah kendaraan bermotor tidak seimbang dengan pertambahan panjang ruas jalan, tetapi ada banyak faktor lain yang tumpang tindih.
Memang jumlah pertambahan kendaraan bermotor itu berlangsung seperti deret ukur, sedangkan pertambahan panjang ruas jalan berlangsung seperti deret hitung, tetapi itu bukan satu-satunya penyebab terjadinya kemacetan di Jakarta. Masih ada faktor lain, yakni semrawutnya tata kota, rendahnya disiplin berlalu lintas, serta belum baiknya manajemen lalu lintas.
Di beberapa negara lain, jumlah kendaraan bermotor di jalan dikurangi dengan menyediakan transportasi umum massal yang nyaman dan aman, termasuk kereta bawah tanah. Di negara ini, transportasi umum dilayani oleh angkutan umum minibus, mikrobus, dan bus yang hanya dapat memuat penumpang 13-80 orang per unit. Dan, transportasi umum di Jakarta dan sekitarnya itu jauh dari nyaman dan aman sehingga pengendara dan penumpang mobil pribadi enggan menggunakannya.
Belum lagi besarnya total ongkos yang harus dikeluarkan seseorang untuk melakukan perjalanan dari rumah ke kantor dan sebaliknya, membuat banyak orang yang memilih menggunakan sepeda motor. Bagi seseorang yang tinggal di pinggiran Jakarta, untuk melakukan perjalanan ke kantor dan kembali ke rumah dengan transportasi umum, ia memerlukan sedikitnya Rp 20.000. Belum lagi waktu tempuhnya. Dengan menggunakan sepeda motor, uang Rp 20.000 itu dapat digunakan minimum untuk 1 minggu dan waktu tempuhnya jauh lebih singkat.
Semrawutnya tata kota itu dapat dilihat dari banyaknya gedung pemerintah, kantor, toko, sekolah, rumah ibadah, atau pasar yang tidak memiliki lahan parkir sehingga kendaraan-kendaraan menggunakan badan jalan sebagai tempat parkir. Akibatnya, aliran lalu lintas yang melalui tempat-tempat itu tersendat dan sebagai buntutnya terjadi kemacetan.
Bukan itu saja, di hampir semua pasar di Ibu Kota, pedagang berjualan di badan jalan. Dan, keadaan itu diperparah dengan banyaknya kendaraan umum yang menunggu penumpang (ngetem) di sana. Bahkan, di beberapa pasar, badan jalan digunakan sebagai terminal bayangan. Sebagai akibat, lalu lintas di tempat-tempat seperti itu praktis lumpuh. Diperlukan waktu sekitar 30 menit untuk keluar dari ruas jalan yang panjangnya tidak sampai 1 kilometer.
Buruknya disiplin dalam berlalu lintas juga tampak apabila ada kemacetan. Kesabaran untuk mengantre itu sama sekali tidak ada sehingga ruas jalan yang seharusnya digunakan untuk dua lajur dibuat menjadi tiga lajur sehingga deretan mobil yang berjajar itu sangat dekat dan tidak dapat dilalui oleh sepeda motor.
Di negara lain, yang lalu lintasnya juga macet, seperti China dan Thailand, keadaan seperti itu tidak terjadi. Pada ruas jalan dua lajur, dalam keadaan macet parah pun, pengendara mobil tetap menggunakan dua lajur sehingga sepeda motor tetap bisa lewat di antara deretan mobil yang berjajar. Pertanyaannya, mengapa orang-orang di negara ini malas mengantre?
Bertindak semau-maunya
Itu belum semuanya. Mobil pribadi membelok padahal di tempat itu ada rambu dilarang membelok, berhenti di tempat di mana ada rambu dilarang berhenti, atau parkir di mana ada rambu dilarang parkir. Sepeda motor lebih parah, menyeberang di jembatan penyeberangan, melaju melawan arah di ruas jalan searah, melaju di trotoar, atau menyerobot saat lampu lalu lintas merah.
Dengan alasan harus mengejar setoran, kendaraan umum bertindak semau-maunya. Mulai dari tidak mau mengantre saat terjadi kemacetan (ulah kendaraan umum ini banyak ditiru kendaraan pribadi), ngetem di simpul-simpul perempatan, termasuk membuat terminal bayangan. Bahkan, bus-bus antarkota dan antarprovinsi pun membuat terminal bayangan di wilayah Pondok Indah menjelang pintu tol TB Simatupang.
Repotnya, aliran lalu lintas di Ibu Kota sangat padat sehingga hambatan sedikit saja, misalnya ada satu saja mobil yang berhenti di sisi kiri jalan, akan berbuntut antrean yang sangat panjang. Apalagi jika kendaraan umum yang ngetem berlapis, atau menyita dua lajur jalan, di simpul-simpul perempatan.
Persoalannya, bagaimana menghilangkan hambatan terhadap aliran lalu lintas itu? Baik itu mobil-mobil yang parkir di depan gedung pemerintah, sekolah, maupun angkutan umum yang ngetem di mulut terminal, di pasar, dan di simpul-simpul jalan lain, terutama di perempatan jalan. Atau pertanyaan yang lebih mendasar, siapa yang harus turun tangan untuk membenahi kesemrawutan itu? Secara mudah kita menyebutkan bahwa itu adalah tugas polisi. Lalu, pertanyaan selanjutnya adalah, mengapa polisi tidak dapat membenahi kesemrawutan itu? Inilah yang sulit untuk dijawab. Kadang terlihat personel polisi mencoba memperlancar aliran lalu lintas yang tertahan. Namun, kendaraan umum yang ngetem di sekitarnya didiamkan saja.
Kemacetan di Pasar Ciputat, di pinggiran selatan Jakarta, bisa dijadikan salah satu contoh bahwa aparat tidak dapat, atau bahkan mungkin tidak ingin, mengurai kemacetan di kawasan itu. Apa pun alasannya. Persoalannya, kemacetan di kawasan itu sudah ada sejak 1970-an. Dan, kini, 39 tahun sesudahnya kemacetan di kawasan itu tidak berkurang, bahkan lebih hebat. Pembuatan jalan layang di kawasan itu justru mempertegas fungsi Pasar Ciputat sebagai terminal liar dan pusat pedagang kaki lima.
Kalau sudah begini, siapa yang harus disalahkan?
Sangat beragam
Penyebab kemacetan lalu lintas di Ibu Kota sangat beragam. Mulai dari angkutan umum yang tidak disiplin (ngetem di sembarang tempat dan tidak mau mengantre dengan alasan mengejar setoran), penumpang angkutan umum yang tidak disiplin (menghentikan kendaraan umum di sembarang tempat), pengendara sepeda motor yang tidak disiplin, pengendara mobil pribadi yang tidak disiplin (tidak mematuhi tanda dan rambu lalu lintas), pejalan kaki yang tidak disiplin (menyeberang sembarangan, enggan menggunakan jembatan penyeberangan), pedagang kaki lima yang tidak disiplin (berdagang di badan jalan), sampai sikap pengemudi kendaraan bermotor yang mau menangnya sendiri.
Itu sebabnya, tidak berlebihan jika disebutkan oleh judul tulisan ini, mengurai kemacetan lalu lintas itu bagai menegakkan benang basah. (JL)
Artikel dimuat di harian Kompas, 16 Oktober 2009, halaman 37
Posted by JL Blog 07:57 1 komentar
Label: Lalulintas
